Kamis, 15 September 2011

cerita lebaran (lanjutan)

di postingan kemarin, saya belum memajang foto-foto waktu lebaran kemarin. Acara lebaran kami dipenuhi dengan jadwal sawalan trah keluarga, baik dari keluarga saya maupun keluarga mas di bantul. Hari kedua lebaran, kami sawalan di keluarga besar eyang di tempel-sleman. Bulik Sri yang kebetulan lebaran di djogja, jadi bisa ikutan ketemu dengan keluarga besar eyang yang sekarang jumlahnya mencapai 150an orang termasuk anak,cucu sampai buyut. Saya aja,ga kenal semua hihi..

Selasa, 13 September 2011

the sweetest memorie

Saya pengen ikut memeriahkan 1st Giveaway-nya jeng orin, sebelumnya saya mengucapkan happy 1st anniversary buat jeng orin dan suami semoga menjadi keluarga yang SAMARA dan cepet dapat momongan.

Nyari-nyari foto yang sweetest memorie emang susah. Soalnya banyak foto yang punya cerita dan kenangan sendiri-sendiri. Setelah ngubrek-ubrek file, akhirnya saya milih foto ini.
Foto ini diambil di tahun 2007 saat ikhsan berumur 4 bulan. Waktu itu kami menghadiri sawalan keluarga di bantul dan pertama kali pake baju kembaran sekeluarga. Dan pas kondisi saya benar-benar pulih setelah melahirkan ikhsan. Melahirkan ikhsan, memang sebuah perjuangan yang tidak mudah. Saya dinyatakan positif hamil setelah 1,5 tahun menikah. Dan harus opname di RS sampai 2 kali selama masa kehamilan. Morning sickness yang parah membuat saya dehidrasi dan harus opname di usia kehamilan 7 minggu.. Morning sickness masih terus hadir selama 9 bulan kehamilan. Memasuki bulan ke 8, saya mengalami kontraksi hebat dan harus opname lagi. Alhamdulillah, kehamilan masih bisa dipertahankan sampai HPL. Proses melahirkan pun ternyata tidak mudah. Saat itu saya baru bisa merasakan beratnya perjuangan seorang ibu bagi anaknya. Perjuangan antara hidup dan mati. Dan saya jadi teringat pada almh. Ibu, sungguh saya merindukannya saat saya mengalami perjuangan antara hidup dan mati itu.

Proses pembukaan memakan waktu sekitar 7 jam, setelah bukaan komplit ternyata bayi tak kunjung keluar. Setelah berjuang mengejan hampir 2 jam, akhirnya saya menyerah untuk di-sesar karena terjadi bleeding. Tepat jam 16.00, tanggal 30 Juni 2007, lahirlah seorang bayi laki-laki dari perut saya. Mas yang meng-adzani telinganya.

Pasca sesar, ternyata saya mengalami komplikasi. Bekas luka jaitan basah dan terus mengeluarkan cairan. Saya juga sempat mengalami baby blues. Treatment yang dilakukan dokter adalah memencet bekas luka dan membuat luka baru karena tubuh saya menolak benang yang ditanam sehingga terus-menerus mengeluarkan cairan. Wuih, rasanya seperti diiris pisau lagi, perihnya mak... Saya selalu menangis menahan perihnya, habis ga dibius sama dokternya. Mas yang menemani saya juga ikutan mringis-mringis kayak nahan sakit juga. Dan kejadian ini berlangsung terus sampai 3 bulan. Menjelang masa cuti saya habis, Alhamudulillah luka bekas jaitannya saya juga mulai mengering.

Ketika hari idul fitri tahun 2007 tiba, kondisi saya sudah fit dan ok, jadi bisa berpose cantik bareng ikhsan dan mas :)

Postingan ini diikutsertakan dalam 1st Giveaway: The Sweetest memories-nya jeng orin

Nb: maaf ya jeng malah isi postingannya jadi curhat hehe...

Jumat, 09 September 2011

rapelan cerita

wah, lama ga apdet blog. Jadi banyak cerita yang terlewatkan nih. Bingung mau mulai dari mana nih. Mulai dari cerita ultah bapakna ikhsan aja ya?
ultah mas
tanggal 28 agustus kemaren mas ultah. Kebetulan pas bulan puasa. Sebenarnya ga ada niat buat ngerayain. Biasanya kalau di keluarga kami ada yang ultah, saya hanya beli blackforest, doa bareng, tiup lilin dan buka kado. Nah, kemaren si mas minta dirayain. Wah, kayak anak-anak aja, batin saya. Akhirnya saya turuti keinginan mas. Saya ngundang keluarga kakak ipar, kakak saya dari semarang yang kebetulan udah mudik dan eyang untuk buka bersama dalam rangka ultah mas. Saya coba booking resto langganan saya di kawasan jl. kaliurang, ternyata di tanggal 28 agustus mereka dah tutup karena libur lebaran. Nyari-nyari resto di seputaran jalan kaliurang, akhirnya pilihan saya jatuh di resto palem gading. Resto yang terbilang baru, tapi kami dulu pernah nyobain makan di sana dan lumayan enak.
Akhirnya kami buka bersama disana tepat di malam tgl 28 agustus. Lumayan seru dan ramai karena yang datang sekitar 15an orang. Terkabul juga keinginan mas buat ngerayin ultah hehe...
Saya juga nyiapin kado spesial buat mas. sstt...sinya rahasia.. hehe..

acara lebaran
Lebaran tahun ini sama seperti lebaran tahun lalu. Kami melewatkan malam takbiran dan lebaran hari pertama di tempat mbah kakung di bantul. Namun lebaran kali ini jadi lebaran spesial karena bulik saya jauh-jauh dari tangerang pengen banget berlebaran di djogja. Bulik Sri namanya. Bulik Sri adalah adik dari ibu saya yang sudah meninggal 11 tahun yang lalu. Ibu adalah anak kedua dari 5 bersaudara. Bulik sri anak ke3. Saudara-saudaranya yang lain sudah meninggal dalam usia muda termasuk ibu saya. Jadi saudara dari ibu yang masih hidup tinggal bulik sri saja.
Ceritanya bulik sri kangen sama suasana djogja yang dulu semasa ibu saya masih hidup hampir setahun sekali disambanginya. Mungkin bulik juga kangen sama ibu saya.
Kami semua sontak bergembira mendengar kabar kedatangan bulik. Kangen juga ngobrol ngalor-ngidul sama bulik, apalagi fisik bulik hampir mirip dengan ibu. jadi rasanya agak terobati rasa kangen kami dengan sosok ibu yang sudah lama meninggal. Bulik masih tampak sehat dan tidak lelah setelah menempuh perjalanan darat selama hampir 15 jam karena terkena macet karena arus mudik. Bulik datang dengan rombongan adik sepupu saya yang juga mau lebaran di djogja. Setelah mengantar bulik di rumah, sepupu saya melanjutkan perjalanan ke tempat saudaranya.
Dan hampir 4 hari bulik melewatkan lebaran bersama kami. Ngobrol dengan bulik ga ada matinya dewh. Ngomongin apa aja bisa dan tahan lama lho. Ga terasa ampe berjam-jam hehe...

Ketika bulik bertemu dengan kakak tertua saya, mba ratna, sontak bulik berkata," duh aku ketemu yu sum lagi." (yu sum adalah panggilan bulik kepada ibu saya).
kami hanya bisa tersenyum saja, memang penampakan kakak saya yang satu itu sangat mirip ibu.

ultah saya
ultah saya dan mas hanya terpaut sekitar 2 minggu, tapi jatuh di bulan berbeda. Hari ini saya genap berusia 32 tahun. Doh, ga terasa waktu berjalan begitu cepat. Di usia ini saya sudah punya suami dan anak. Dulu waktu masih kuliah, kalo ngebayangin umur sudah 30an, berasa tuwir banget. Ah, ternyata cepat banget rasanya saya melewati waktu hingga sampai di usia ini. Alhamdulillah, harapan dan keinginan saya sudah banyak yang tercapai. Saya sangat bersyukur atas rahmat dan karunia Allah kepada saya dan keluarga. Semoga di tahun-tahun mendatang saya bisa lebih bersyukur dan memanfaatkan rahmat dan karunia Allah kepada saya.

Tadi pagi saya dibangunkan oleh bisikan selamat ulang tahun dari mas.
"Met ultah ya jeng.."
Saya terbangun dan mendapat kecupan di pipi. Masih terkantuk-kantuk saya menerima bungkusan kado dari mas. Doh, senengnya dapat kado dari suami tercinta saat pertama kali mata melek dari tidur. Dengan penuh semangat saya buka bungkusan itu. Dan tralaaa..., sebuah tas cantik yang masih ada label harganya. Saya ngekek liatnya. Ketika saya tanya mas, kenapa label harganya ga dilepas saat bungkus kado? jawabannya simpel.
"Biar jeng tahu harganya, ga murah lho.." hihi..., ada-ada aja.
Anyway makasih mas, untuk surprise pagi ini.

Rabu, 24 Agustus 2011

kiriman hadiah

setelah beberapa kali ikutan kontes di dunia per-blogeran, akhirnya saya menang juga hehe... Ikutan nulis fiksi mini di Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Pakdhe Cholik, mba Nia, mba Lidya, saya dapet juara harapan V. Weh, begitu tahu hasilnya rasanya pengen jingkrak-jingkrak saking senengnya.

Dua hari yang lalu, kiriman dari JNE datang. Begitu lihat ada bungkusan, Ikhsan langsung spontan pengen buka. Menurut dia, ini hadiah buatnya. Ya sudahlah, tanpa komando langsung dibuka. Setelah bungkusan dibuka, Ikhsan rada kecewa karena isinya adalah jilbab swarna berwarna biru tua.
"Yah..., ini buat ibu, bukan buat aku," kata ikhsan sambil ngeloyor pergi.
hihi..., ya iyalah le, wong isinya jilbab.
ketika saya melihat-lihat jilbab itu, ikhsan mendekati saya dan mulai merengek, " ibu, kado buat aku mana? kok aku ga dapat kado?"
"ya, besok ya le," jawab saya pendek.



Saya langsung penasaran pengen nyobain jilbab swarna itu. Langsung deh ngacir ke kamar. Langsung dipake dan ternyata pas banget di kepala. Pas liat di cermin, ternyata ok deh. Jadi langsung aja menjepret diri sendiri (naluri narsis-nya mulai muncul hehe..)

Ikhsan dan bapakna sepakat memberi komentar," Ibu cantik.."
Wah, jadi melayang dewh..
jadi, makasih mba Nia, mba Lidya,mba dey dan Pakdhe Cholik buat kadonya yang bikin saya dapat komentar "cantik" dari 2 lelaki ganteng di rumah.

Kamis, 18 Agustus 2011

marah pada anak

Pernahkah teman-teman marah, jengkel atau ngomel pada anak? Saya yakin pasti pernah walau cuma sekali saja. Untuk menjadi marah memang mudah. Setiap orang pasti mampu untuk marah terhadap sesuatu atau seseorang. Dan akan paling mudah marah terhadap anak. Apalagi jika anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan kehendak kita. Posisi kita sebagai orang tua menjadi posisi yang superior untuk marah terhadap anak yang masih kecil. Tetapi, marah yang tepat tidaklah mudah. Marah pada waktu yang tepat dan pada orang yang tepat dengan cara yang baik, bukanlah sesuatu yang mudah.

Bagi orangtua yang beraliran konservatif dalam mendidik anak, akan selalu merasa berhak untuk marah, bila merasa jengkel dan tidak menyukai perilaku anak. Hak ini didukung oleh argumen, bahwa kemarahan orangtua adalah demi kebaikan terhadap anak itu sendiri. Tujuan ini tentu saja dibenarkan, namun kadar, waktu, dan cara marah yang keliru, sering menimbulkan suasana semakin ruwet. Orangtua semakin marah, anak semakin memberontak. Orangtua mengecap anaknya sebagai anak yang bandel, nakal, suka membantah orangtua, sementara anak melakukan penyelesaian masalah dengan caranya sendiri. Misalnya dengan lari dari suasana rumah, berkeliaran di mal-mal, pulang larut malam, atau bahkan terlibat dalam obat-obatan terlarang.

Untuk itu dibutuhkan tidak saja ketrampilan kognitif intelektual manakala orangtua akan menggunakan hak marahnya kepada anak, melainkan juga dituntut adanya ketrampilan emosional. Keterampilan kognitif intelektual tampak dari tujuan marah yang ilmiah, yakni karena kamu salah maka ibu dan bapak berhak untuk marah. Keterampilan emosional, tampak dari bagaimana ketepatan orangtua untuk mengekspresikan marahnya secara tepat.

Daniel Goleman menyodorkan empat langkah alternatif marah yang tepat terhadap anak. Empat langkah ini terdiri atas strategi SOCS (Situation, Option, Consequence, dan Solution). Artinya kita harus mengetahui:

1. situasi psikologis anak (badan anak capek, pikiran masih kacau atau anak memang tipe pemberontak)

2. alternatif hal-hal yang bisa dilakukan terhadap anak (menasehati langsung, menasehati tetapi ditunda setelah anak memiliki waktu yang tepat, menasehati biasa, menasehati dengan nada keras, dsb)

3. memikirkan segala konsekuensinya (anak menerima tanpa syarat, diterima dengan syarat, atau anak menolak nasihat orangtua)

4. mengetahui solusi yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah anak.

Dari pengalaman saya, memang mengelola rasa marah terhadap anak sangat sulit. Terkadang saya kelepasan juga mengeluarkan kata-kata yang berintonasi agak keras terhadap Ikhsan kalau dia menolak nasehat saya dan tetap melakukan perbuatan yang menurut saya tidak tepat. Seperti kejadian kemarin sore ketika saya mengajak Ikhsan untuk buka bersama di masjid. Di masjid , setelah diisi pengajian menjelang buka, anak-anak termasuk Ikhsan pada ribut. Saya pikir itu wajar, namanya juga anak-anak, kalau ketemu teman-temannya pasti akan ramai. Mereka tidak bisa disuruh duduk berdiam diri menunggu adazan maghrib berkumandang seperti orang dewasa. Dan ketika sound sistem mesjid dicoba, orang yang nyoba ngetes mic-nya berkata," tes..tes.."

Mendengar itu, Ikhsan tertawa dan langsung menirukan dengan teriakan keras, "bas...bas...base.."

Nah, anak-anak yang lain tampaknya merasakan sensasi senang dengan menirukan apa yang dikatakan ikhsan. Jadi semua anak pada bilang, "bas...bas...base..," dengan suara lantang. Bisa dibayangkan betapa ramainya suasana mesjid waktu itu. Sampai saat buka puasa tiba, anak-anak dengan dipimpin ikhsan & yudis masih pada ribut bilang, "bas...bas...base..."

Saya mencoba memberitahu ikhsan supaya jangan teriak-teriak seperti itu, karena setiap kali ikhsan mengucapkan kata-kata itu, anak-anak lain akan mengikutinya. Sebentar kemudian ikhsan menuruti kata-kata saya, tapi selang beberapa menit diulang lagi. Doh, ampe tepok jidat dewh..

Sebelum sholat maghrib dimulai, saya sudah wanti-wanti sama ikhsan,

"Le, nanti kalau sholat jangan rame ya? Jangan teriak-teriak "bas..bas..base" ya? Ga usah ikut-ikutan mas Yudis teriak-teriak ya? Nanti ganggu ibu-ibu dan bapak-bapak yang sholat."

"ho o bu, " ikhsan mengiyakan dengan mantaps.

Setelah itu, ikhsan berlari ke deretan jamaah laki-laki. Eyang langsung mengambil posisi di antara ikhsan dan yudis. Niatnya misah 2 anak itu biar ga begitu ramai saat sholat dimulai. Yah, namanya anak-anak walau sudah diwanti-wanti tidak teriak-teriak pas sholat, tetep aja dua anak itu bergantian teriak "bas...bas...base..," Ya, jelas mengganggu konsentrasi jamaah lain. Selesai sholat, deretan ibu-ibu sudah pada ngomel-ngomel kalau teriakan anak-anak itu mengganggu konsentrasi. Salah satu ibu, langsung berdiri dan mengacungkan telunjuknya ke arah ikhsan dan memelototkan mata sambil bilang ,"kalau sholat ga boleh ramai," dengan intonasi tinggi. Doh, saya jadi ga enak ati banget. Niatnya melatih ikhsan sholat di mesjid, eh malah banyak orang yang terganggu sholatnya. Tanpa kata-kata saya beranjak bangun dan menggandeng tangan ikhsan. Saya ajak pulang. Walau ikhsan protes keras, kenapa dia buru-buru diajak pulang sementara teman-temannya masih di masjid. Saya tetep diam dan menarik tangannya.

Melihat saya hanya diam saja di jalan, rupanya ikhsan tahu kalau saya marah.

"Ibu marah ya? ibu kok diam saja?" tanya ikhsan sepanjang jalan menuju rumah.

"iya, ibu marah," jawab saya pendek.

"Kenapa?"

"Karena ikhsan rame di mesjid. Mengganggu orang-orang di mesjid."

Sampai rumah, ikhsan saya dudukkan di pangkuan saya dan saya coba memberitahunyabahwa kemarahan saya karena ikhsan melakukan perbuatan yang tidak pas. Karena saya jarang banget marah, ikhsan langsung nangis sesengukan. Saya minta dia berjanji tidak mengulanginya. Ikhsan tetep menangis. Saya peluk ikhsan dan saya tunggu sampai tangisnya reda. Setelah reda, ikhsan akhirnya mau berjanji tidak mengulang lagi. Dan sebagai "hukuman", malam itu saya tidak memperbolehkan ikhsan menonton acara shaun the sheep di tivi. Tanpa protes, ikhsan menerima "hukuman" saya.

Hari berikutnya, saya tetap mengajak ikhsan buka puasa di masjid. Saya wanti-wanti ikhsan sebelum sholat maghrib dimulai, bahwa kalau dia tidak ribut selama sholat maka dia boleh nonton shaun the sheep di tivi stelah sholat maghrib, tapi kalau masih ribut, maka ikhsan ga boleh nonton. Ternyata selama sholat, ikhsan dan yudis tetep ribut dan rame. Dan jamaah lain masih berkomentar negatif tentang keributan anak-anak itu. Saya tidak menegur atau memarahi ikhsan langsung di mesjid. Saya hanya diam dan langsung menggandeng tangan ikhsan, mengajak pulang. Sampai di rumah, saya bilang ke Ikhsan kalau dia tadi masih rame di mesjid jadi tidak boleh nonton shaun the sheep.

"Iya, aku tadi masih rame," ikhsan mengakui kesalahannya. "Aku ga nonton shaun the sheep, aku mainan aja."

Kemudian saya tidak membahas lagi. Saya pikir ikhsan sudah mengerti tentang sebab-akibat dari perbuatannya. Jadi sore ini, saya tetap akan ajak ikhsan ke mesjid. Saya pengen membuktikan tentang konsep saya tentang"reward-punishment." Semoga ikhsan mengerti, tanpa saya harus marah-marah dengan kata-kata berintonasi tinggi.


Senin, 15 Agustus 2011

6th annyversary

14 Agustus 2011, usia pernikahan kami genap 6 tahun. Sungguh waktu berjalan begitu cepat. Dulu hanya berdua, sekarang formasi kami jadi bertiga.
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah, yang telah mencurahkan rahmatnya kepada kami.
Alhamdulillah selama 6 tahun ini, kami bisa saling belajar memahami, menyayangi dan mencintai. Walau kadang kala ada percik-percik perbedaan, itu membuat kami lebih menghargai satu sama lain.

Saya juga bersyukur mendapat suami yang sangat pengertian dan sabar dalam membimbing saya. Semoga keluarga kami senantiasa terbingkai menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rohmah dan dikaruniai anak-anak yang soleh dan solihah. Amien...
Luv you mas...

Rabu, 10 Agustus 2011

lepi baru


Saya lagi sumringah karena 2 minggu yang lalu mas mbelikan lepi baru buat saya. Sebenarnya semua pekerjaan bisa saya selesaikan di kantor. Saya juga jarang banget mengerjakan kerjaan kantor di rumah. Kalau di rumah ya melulu ngurusin ikhsan. Di kantor sudah ada kompi buat saya, jadi rasanya belum butuh lepi.

Memang sih sesekali saya pinjem lepi-nya mas buat ngerjakan kerjaan kantor. Nah, karena akhir-akhir ini saya beberapa kali dapat tugas keluar kantor yang mengharuskan saya bawa lepi sendiri, akhirnya mas berbaik hati mbeliin saya lepi. Alasannya daripada saya musti minjem lepi-nya mas. Ah, alasan apa pun, saya tetep jingkrak-jingkrak seneng hehe...

Bukan saya saja yang seneng, Ikhsan juga ikutan seneng soalnya bisa ikutan make lepi buat maen game atau buka gambar-gambar di google.

Sekarang saya jadi punya banyak kesempatan buat ngenet di rumah hehe.. tapi kalau ketahuan ikhsan, pasti deh saya yang harus ngalah. Ikhsan lagi seneng cari gambar-gambar pesawat di google. Selain itu juga heboh liat video pesawat landing di youtube.
Saya juga bisa melampiaskan hasrat untuk menulis. Semoga jadi rajin nulis dan apdet blog hehe..

Sekali lagi, makasih ya mas... ;)