Selasa, 06 Juli 2010

ibu bekerja vs guilty feeling

Bagi para mom yang bekerja di luar rumah pasti pernah merasakan gulty feeling karena jumlah waktu yang sedikit untuk anak dan keluarga di rumah. Saya sangat merasakan ini. Bukanlah hal yang mudah mengatur waktu untuk anak dan kantor. Urusan anak nomor 1 tapi urusan kantor juga tidak kalah penting. Pilihan untuk bekerja di luar rumah memang membawa konsekuensi dan masalah.
Yang pertama waktu untuk bertemu dan mengasuh anak lebih sempit karena di pagi hingga sore hari ibu bekerja di kantor. Naluri seorang ibu adalah merawat dan mengasuh anaknya secara langsung tapi hal ini jelas tidak dapat dilakukan 100 persen jika ibu bekerja di kantoran. Otomatis tanggung jawab ini akan terbagi dengan pengasuh di rumah. Nah masalah klasik selanjutnya adalah urusan pengasuh atau asisten di rumah ini. Susah deh dapet asisten yang cocok segalanya dengan kita. Ada aja yang ga pas. Pertimbangan pilih asisten kudu bener-bener cermat. Saya sempat gonta ganti asisten ampe 3 kali. Yang paling singkat cuma 12 jam di rumah. Jam 3 sore datang eh besok subuhnya dah ngilang alias pergi ga pamit. Weks ga enak banget perasaan saya saat itu. Tapi saya bersyukur tuh asisten ga jadi ngasuh ikhsan karena berarti dia ga punya itikad baek to? Lha wong pergi ga pamit kayak gitu.

Urusan asisten bagi saya kayak jadi masalah yang rada penting karena hampir seharian mereka yang mengasuh anak di rumah. Jadi harus bener-bener dipilih yang baek dan bisa momong anak kecil.
Saya sendiri harus berangkat jam 8 pagi dan sampai rumah paling cepat jam 16.30. Sebelum berangkat ke kantor saya berusaha sudah menyiapkan makanan untuk ikhsan sehari itu dan urusan rumah dah selesai semua. Jadi asisten tinggal nemenin ikhsan maen aja dan tidak disambi-sambi dengan pekerjaan rumah tangga lain. Tapi perasaan bersalah ninggalin ikhsan seharian yang kadang harus menangis bombay ketika melihat saya berangkat ngantor tetap aja ada di hati. Yah, saya juga menyadari wong secara kenyataan waktu saya banyak tersita dikantor.
Pernah terbersit pikiran di kepala untuk resign dan jadi FTM ajah. Tapi menurut mas itu bukan solusi karena masalah waktu dan guilty feeling saya bisa disiasati.
Kemudian setelah saya pikir-pikir bener juga apa kata mas, bahwa semua bisa disiasati. Perempuan tetap bisa bekerja dan mengurus keluarga. Mas sih cuma bilang, ”ikhsan dan keluarga tetep yang pertama lho jeng.”
Yup, saya juga sependapat dengan mas alias saya ga akan terlalu ngoyo bekerja di kantor. Sekedarnya saja karena keluarga tetap nomor satu dan tanggung jawab utama menafkahi keluarga ádalah tugas para ayah. (tos ya mas?hehe).

Saya berusaha memanfaatkan waktu selepas bekerja untuk menemani ikhsan dan mengajari berbagai hal. Alhamdulillah ikhsan selalu lebih lengket dengan saya dibanding dengan asisten. Walaupun kadang lebih manja juga ke saya daripada ke bapaknya. Yah ngaku aja, kalau saya kadang masih manja-manjain ikhsan biar ni anak seneng. (nebus rasa bersalah hehe, tapi ga sering kok)

Pernah baca artikel di tabloid nova tentang masalah ibu bekerja bahwa dalam beberapa hal keputusan ibu bekerja di luar rumah jelas-jelas membantu anak-anak mereka karena penghasilan mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak.
Pengasuhan dan pendidikan anak dapat dilakukan secara bergantian dengan ayah atau orang lain yang bisa dipercaya dapat mengisi ketidakhadiran ibu. Meskipun mengatur kelancaran pekerjaan dan urusan di rumah tidaklah mudah, tapi para ibu yang bekerja patut berbangga karena mereka ikut menafkahi keluarga, memiliki prestasi dan selalu bersinggungan dengan isu-isu intelektual yang mengasah mereka.
Menjalani peran sebagai ibu bekerja dan ibu rumah tangga secara bersama-sama memang tidak mudah. Semua ada tantangannya. Ibu bekerja harus pandai mengatur dan membagi waktunya antara rumah dan kantor. Selain itu juga harus bisa mengatasi rasa lelah ketika harus melayani kebutuhan si kecil di rumah di saat badan membutuhkan istirahat.

Soal hasil, apakah anak-anak yang ibunya bekerja di luar atau ibunya di rumah menjadi lebih baik atau tidak, tergantung kualitas hubungan ibu dan anak itu sendiri. Kualitas ini tidak ditentukan oleh apakah ibu seharian berada di rumah atau tidak, sebab yang menentukan adalah pola asuh orang tua.

So, jangan terlalu merasa bersalah ketika harus meninggal anak seharian untuk ngantor. Perbaiki kualitas hubungan kita dengan anak. InsyaAllah, anak-anak kita jadi anak yang ok dan jempolan...

15 komentar:

Bunda Farras mengatakan...

akur jeung .. aku juga dulu ngerasa gitu ... sekarang sih yang penting kualitas bukan kuantitas .. Insya Allah anak bisa ngerasain sayang ibunya ..

Fitri3boys mengatakan...

Akur, sama Paragraph terakhir.........Kalo didera perasaan bersalah trus sama anak...malahan gak enak khan buat kita dan juga anak...

entik mengatakan...

@bunda farras & ibu DzakiFai: tos dulu ah...

lidya mengatakan...

bener apa kata bunda Farras, jangan sampai merasa bersalah kalau bekerja ya, yang penting tetap sayang

Bunda Fisa/ Luna mengatakan...

sependapat deh pokoknya...

saya juga sempat nulis artikel ttg pro kontra bunda bekerja di blog...

Ya, ibu bekerja maupun tidak, sama baiknya. Tergantung kualitas hubungan antara ibu, ayah, dan anak.

Bunda Fisa/ Luna mengatakan...

Setuju!!!

Ya, ibu bekerja ataupun tidak, sama baiknya. Hanya tinggal kualitasnya aja yg disesuaikan.

Zulfadhli's Family mengatakan...

Kerja atopun jadi FTM menurut gw setiap ibu pasti tetap mengutamakan anaknya, Mba. Karena apapun keputusannya (bekerja / ga), pasti udah mempertimbangkan masak2 segala konsekuensinya.

So, ga usah merasa feeling guilty kalo kata gw mah Jeng. yang penting Ikhsan tetep nomor satu kalo dirimyu ada waktu :-)

Desy Noer mengatakan...

sama bangggeetttts.. dilema memang.

aku juga kalo lagi di rumah suka manja-manjain zaheer, sepuasnya dia dech, itung-itung nebus kesalahan, gitu.

isma mengatakan...

yup, aku sepakat mbak. yg penting kualitas kedekatan dg anak yg musti dijaga dg baik. lebih-lebih aku nih, yang berbulan-bulan harus berjauhan dg anak-anak, rasa bersalahnya bergunung-gunung ... bersyukurlah jeng entik masih bisa kruntelan sm ikhsan di malam hari dan weekend :-)

BunDit mengatakan...

Toss jeng...jadi FTM atau FWM atau FTM-working at home, semua adalah pilihan. Ada senang susahnya. Jadiii apapun pilihan kita..just enjoy it. Insya Allah selalu dikasih jalan mudah. Amiin :-)

Motik mengatakan...

sabar ya mbak... aku FTM, tp menurutku FTM ataupun WM ada plus minusnya kok. tergantung masing2 orangnya aja, bisa membagi waktu nggak. semangat ya :)

entik mengatakan...

@lidya, bunda fisa jeng desy: yup betul..
@ jeng susan, motik, bundit: FTM juga tetep kerja kan di rumah?jadi emang keknya setiap ibu kudu pinter bagi waktu entah itu FTM or WM
@isma: wah ga kebayang kalau aku ada di posisimu jeng...

ratna mengatakan...

hehe... ikutaja dech dan moga dapat ganti yang lebih baik dan lebih pinter.:)

entik mengatakan...

@mba ratna: amin...
walau sempat bikin pusing juga si asisten itu

novara mengatakan...

Yup..semangat.. apapun profesi kita, FTM, WM, tetep jaga kualitas hub antara ibu dan anak..
salam kenal dari bunda nova yg juga WM..