Jumat, 26 April 2019

perencanaan keuangan keluarga (part 1)


Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.

Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak banyak saldo di tabungan saya hihi... siapa yang pernah ngalami masa-masa seperti saya dulu? Toss ah..

Kamis, 14 Maret 2019

Seputar Menggendong Bayi

Tiga kali melahirkan dan punya bayi, rasanya saya selalu ingin memperpanjang masa saat anak-anak menjadi bayi. Menggendong bayi itu rasanya menyenangkan. Setelah melahirkan anak ketiga, saya baru “ngeh” kalau ternyata menggendong  bayi ada ilmunya. Enggak cuma sekedar menggendong saja. Ilmu menggendong bayi yang saya peroleh dari ibu mertua atau orang-orang di sekitar saya,  yaitu kalau menggendong bayi paling nyaman ya pakai kain jarik. Bayi sebelum usia 6 bulan harus digendong dengan posisi kaki bayi lurus. Alasannya kaki bayi belum kuat kalau digendong dengan posisi kaki mengangkang dan nanti pertumbuhan kaki bayi akan terganggu.

Terus ada juga yang memberi nasehat kalau anak bayi jangan sering-sering digendong nanti takutnya bayi bakal “bau tangan” atau lebih senang digendong, manja dan tidak mandiri.
Temen-temen ada ga yang dapet wejangan kayak saya pas sehabis melahirkan?? Cung tangan dan toss...

Kamis, 20 Desember 2018

Menjadi Ibu itu "Tidak Boleh Sakit"

Ibu adalah "center of power" di rumah. 

Saat mendapat status menjadi Ibu, maka bersiaplah untuk kuat dan sehat mengurus keluarga. Entah itu Ibu yang full di rumah atau Ibu bekerja karena seorang Ibu adalah manajer rumah tangga tempat kontrol semua kegiatan di rumah. Kita tahu, seorang manajer mempunyai tanggungjawab yang besar, nah kalau manajer rumah tangga  apa yang jadi tanggungjawabnya?

Seorang Ibu mempunyai tanggungjawab untuk mengurus dan melayani suami, anak-anak, anggota keluarga lain dan juga dirinya sendiri. Selain itu Ibu harus bisa memastikan kelancaran operasional di rumah mulai dari mengurus kebersihan rumah, penyediaan kebutuhan logistik rumah, merawat dan memastikan semua anggota keluarga terlayani dengan baik.

Wuih.. tanggungjawab yang tidak ringan bukan? secara fisik butuh stamina yang kuat untuk menjalaninya.

Baca :Menjadi Manajer Rumah Tangga

Pekerjaan di rumah adalah pekerjaan yang tidak pernah berakhir. Contoh kecilnya adalah saat piring dan gelas yang sudah dicuci semua hanya akan bertahan sebentar karena dalam beberapa menit akan ada yang mulai mengambil gelas bersih dan menjadi kotor lagi. Pun urusan baju kotor, akan senasib seperti urusan piring kotor.

Lingkaran pekerjaan yang tak pernah usai dan membutuhkan tenaga untuk mengeksekusinya. Apalagi kalau tidak punya ART, sang Ibu akan menjadi orang pertama yang bangun dan orang yang terakhir tidur di rumah. Betul ga? siapa yang sudah mengalaminya? tunjuk tangan…. Toss sama saya kalau sama hehe...

Lalu apa jadinya kalau si ibu sang manajer rumah tangga jatuh sakit??

Senin, 10 Desember 2018

Pejuang ASI eksklusif untuk irham

Akhir bulan November 2018 ini, Irham genap berusia 6 bulan. Iyes.. akhirnya si anak bayi ini lulus ASI eksklusif. Lega dan puas rasanya bisa memberikan hak bagi Irham untuk mendapatkan ASI. Saya sendiri sebagai ibu juga "bangga" berhasil melewati perjuangan lelahnya menyusui dan memerah ASI. Bukan karena urusan memberikan ASI eksklusif sekarang lagi "trend" dan ramai di media sosal, tapi rasa bahagia dan puas sebagai ibu tidak bias dilukiskan dengan kata-kata.

Saya juga tidak memungkiri bahwa media sosial menjadi salah satu booster untuk bisa memberikan ASI eksklusif. Melihat foto botol-botol ASIP di freezer dan foto wajah bayi yang pipinya menggembul yang wira-wiri di lini masa sekarang jadi sesuatu yang menggelitik hati untuk juga bisa punya stok ASIP yang banyak. Apa saya juga ikutan share foto botol-botol ASIP di medsos? ah, sesekali saya juga share dengan niatan bisa jadi booster ibu-ibu yang menyusui untuk ikut berjuang memberikan ASI bagi bayinya. 

Rabu, 28 November 2018

Irham’s Milestone 0-5 months

Tidak terasa sekarang telah memasuki bulan ke lima post partum saya. Saya belum menuliskan di blog tentang perkembangang irham sebagaimana biasa saya menulis perkembangan kakak-kakaknya. Sekarang saya mau menuliskan perkembangan Irham sejak mulai usia 0 bulan.

Masa kehamilan Irham saya habiskan untuk mondar-mandir ke kampus untuk kuliah, bimbingan tesis dan perpustakaan. Jadi ini bayi sudah ikutan belajar sejak di perut. Walau saya terserang hyperemesis sejak trimester pertama, tapi aktivitas saya tetap bejibun.

Ikhsan Ikhfan tetap minta saya antar jemput sekolah, jadi saya tetap menyetir mobil sampai usia kandungan memasuki 9 bulan. Saya berhenti nyetir mobil karena diminta mas suami yang sudah ga tega melihat perut saya yang membuncit. Apalagi badan saya benar-benar melar karena berat badan naik hampir 21 kg.

Baiklah saya stop nyetir mobil dan minta diantar jemput oleh mas suami sampai saat datangnya HPL. Saya memang disarankan dokter untuk melahirkan secara SC karena riwayat SC di dua kehamilan sebelumnya. SC pertama karena terjadi pendarahaan sedangkan SC kedua karena placenta previa totalis. Baiklah, saya ikhlas memutuskan untuk melahirkan secara SC.

Jadwal SC saya 5 hari sebelum HPL tapi 5 sebelum jadwal secar saya mengalami kontraksi. Setalah dibawa ke RS, ternyata saya mengalami bukaan 3. Saya dinyatakan dalam kondisi darurat dan harus segera dilakukan SC dalam waktu satu jam.

Jumat, 05 Oktober 2018

babyblues yang ketiga.....

Masa post partum adalah masa-masa peralihan dari masa kehamilan ke masa menyusui. Pengalaman masa postpartum pada setiap ibu akan berbeda. Pengalaman post partum anak pertama, kedua dan ketiga bagi saya juga berbeda-beda. Tiga kali melahirkan,.tiga kali pula saya mengalami babyblues. Pengalaman mengatasi baby blues pada setiap masa post partum ternyata berbeda.

Saya sendiri juga heran, mengapa setiap kali melahirkan mengalami baby blues walau saya sudah mencoba mencari banyak informasi mengenai baby blues sebelum melahirkan mulai dari membaca artikel sampai mengikuti seminar.

Untuk mencegah babyblues, ketika memasuki bulan ketujuh kehamilan irham, saya mengikuti seminar mengenai cara mengatasi babyblues pada Ibu pasca melahirkan. Secara teori saya memahami apa yang dipaparkan oleh pembicara seminar. Tetapi perasaan "takut" akan berulangnya babayblues masih membayangi saya.

Ketika saya menanyakan kepada pembicara, apakah babyblues akan terulang pada kehamilan berikutnya? pembicara menjawab bahwa segalanya tergantung pada mindset kita. Pikiran positif harus terus disuntikkan kepada diri kita dan faktor-faktor pemicu babyblues sedapat mungkin dihindari. Selain itu, yang paling utama adalah komunikasi dengan pasangan ditingkatkan. Segala rasa dan keluh kesah tumpahkanlah pada pasangan dan pasangan harus bersiap untuk mendengarkan dan memberi solusi.

Yup, secara teori dan informasi saya merasa sudah cukup untuk menghadapi kemungkinan datangnya babyblues. Namun ternyata kenyataan berbeda dengan harapan. Saya tetap mengalami babyblues untuk ketiga kalinya.


Rabu, 29 Agustus 2018

selamat datang ke dunia Irham...


Memasuki trimester ketiga di kehamilan saya yang ketiga ini, kondisi badan lumayan fit untuk beraktifitas. Saya masih mondar-mandir antar jemput anak-anak dan mengerjakan tesis di kampus. Dengan perut yang semakin membesar, saya masih bisa nyetir mobil sendiri tapi 4 minggu menjelang HPL mas suami melarang saya menyetir sendiri. Sudah ga tega liatnya, begitu alasan mas suami. Saya sih nurut saja.

Beberapa minggu mendekati HPL saya kadang merasa deg-degan seperti takut menjalani proses persalinan. Dua kali mengalami sesar, saya masih saja ngeri membayangkan saya akan mengalami lagi untuk yang ketiga kalinya. Setiap kali kontrol, dokter kandungan saya jarang membahas proses sesar yang akan saya lalui nanti. Sepertinya beliau tahu kalau saya takut menjalani sesar lagi. Pokoknya kata-katanya menenangkan saya.

“sesuai SOP memang Ibu lebih aman kalau menjalani persalinan lewat sesar. Tapi yang terpenting kita jaga kondisi janin matang dan saya menjadwalkan sesar 5 hari sebelum HPL. Tidak bisa lebih cepat, untuk meminimalisir bayi lahir dengan bilirubin tinggi. Saya akan selalu siaga membantu persalinan Ibu,” begitu penjelasannya.