Rabu, 29 Agustus 2018

selamat datang ke dunia Irham...


Memasuki trimester ketiga di kehamilan saya yang ketiga ini, kondisi badan lumayan fit untuk beraktifitas. Saya masih mondar-mandir antar jemput anak-anak dan mengerjakan tesis di kampus. Dengan perut yang semakin membesar, saya masih bisa nyetir mobil sendiri tapi 4 minggu menjelang HPL mas suami melarang saya menyetir sendiri. Sudah ga tega liatnya, begitu alasan mas suami. Saya sih nurut saja.

Beberapa minggu mendekati HPL saya kadang merasa deg-degan seperti takut menjalani proses persalinan. Dua kali mengalami sesar, saya masih saja ngeri membayangkan saya akan mengalami lagi untuk yang ketiga kalinya. Setiap kali kontrol, dokter kandungan saya jarang membahas proses sesar yang akan saya lalui nanti. Sepertinya beliau tahu kalau saya takut menjalani sesar lagi. Pokoknya kata-katanya menenangkan saya.

“sesuai SOP memang Ibu lebih aman kalau menjalani persalinan lewat sesar. Tapi yang terpenting kita jaga kondisi janin matang dan saya menjadwalkan sesar 5 hari sebelum HPL. Tidak bisa lebih cepat, untuk meminimalisir bayi lahir dengan bilirubin tinggi. Saya akan selalu siaga membantu persalinan Ibu,” begitu penjelasannya.


Duh, rasanya hati langsung tenang begitu keluar dari ruang prateknya. Pengalaman sesar pertama kali dulu karena panggul saya sempit sementara berat badan bayi hampir 4 kg. Sesar yang kedua, saya mengalami placenta previa totalis. Artinya placenta menutup seluruh jalan lahir jadi jelas tidak memungkinkan untuk menjalani persalinan normal. Saya sebenarnya sangat takut masuk ruang operasi, tapi Allah menutupi rasa takut saya dengan rasa sakit. Dua persalinan yang terdahulu, saya masuk ruang operasi dengan kondisi bukaan lengkap plus pendarahan. Rasa takut saya hilang ketika masuk ruang operasi. Yang ada dalam pikiran adalah semoga bayi segera lahir dan rasa sakit saya hilang.

Di persalinan yang ketiga ini, rupanya Allah memberikan proses yang sama. Seminggu sebelum jadwal sesar, saya mengalami bukaan. Sesampainya di UGD RS, saya dinyatakan dalam kondisi emergency dan harus segera menjalani sesar dalam waktu 1 jam. Rasa takut saat masuk ruang operasi hilang karena saya menahan rasa mulas yang semakin sering. Saya masuk ruang operasi dengan diiring tatapan mata mas suami yang tegang. Tangannya menggenggam tangan saya dengan erat sambil mengangguk tanpa kata. Ya, saya tahu dia akan menunggu di luar dengan untaian doa untuk saya. 

Bismillah..., saya masuk ruang operasi dengan menahan mulas.

Bayi kami lahir  tgl 31 Mei 2018 tepat jam 14.00. Hanya 20 menit saja sejak operasi dimulai, saya mendengar tangisan kerasnya saat diangkat dari perut saya., Dengan mata yang sangat mengantuk karena bius, saya mencoba melihat bayi yang disodorkan perawat tepat di muka saya.

“laki-laki ya bu..”

"iya.., saya menjawab lirih.

Dokter  anestesi mengecek kesadaran saya dengan mengajak bicara. Tapi rasa kantuk menyerang hebat. Saya hanya menjawab lirih setiap pertanyaannya.
"kalau mengantuk, tidur saja bu..," kata dokter anestesi.

Bha... tidur? saran yang tidak saya turuti. Saya takut tidur ketika operasi berlangsung. Sengantuk apa pun saya bertahan untuk membuka mata saya dan sadar. Dokter masih menyelesaikan jahitan di perut saya.
Satu jam kemudian saya diperbolehkan keluar dari ruang pemulihan. Ketika saya didorong keluar, wajah yang saya lihat pertama kali adalah wajah mas suami. Wajahnya sudah tidak tegang seperti tadi. Dia sudah bisa tersenyum melihat saya.

Alhamdulillah.., saya berhasil menjalani persalinan yang ketiga ini dengan selamat. Rasa takut tetap ada tapi tidak seberapa menganggu perasaan saya.
Proses pemulihan pasca persalinan sesar memang butuh waktu yang lebih lama dibandingkan persalinan normal. Setelah efek bius hilang, saya diminta untuk mulai menggerakkan kaki dan belajar miring kanan-kiri. Jangan ditanya sakit apa enggak ya, karena sakitnya tuh perih kayak disayat. 

Teman-teman yang punya pengalaman pasca sesar pasti juga merasakan hal yang sama. Bedanya adalah ambang sakit tiap orang beda dalam menahan rasa sakit pasca sesar. Saya termasuk punya ambang sakit yang rendah untuk menahan sakit. Saat mencoba belajar berdiri dan berjalan setelah 24 jam pasca sesar, saya mengalami sesak nafas dan hampir pingsan. Huff...3 hari pasca sesar adalah perjuangan berat bagi saya karena masih menahan rasa sakit di perut dan harus belajar menyusui bayi. Alhasil puting lecet semua karena posisi menyusui ga bener.

Saya yakin, setiap ibu melahirkan mempunyai cerita dan perjuangannya sendiri. Persalinan normal atau sesar tidak perlu diperdebatkan karena kita semua berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan. Melahirkan normal rasa sakitnya pasti luar biasa. Melahirkan secara sesar juga sakit luar biasa. Jadi para suami, sayangilah istri karena dia berjuang melawan rasa sakit ketika melahirkan. Rasa sakit dan takut yang selalu berbeda setiap melahirkan anak-anak.

Melahirkan dan menjadi Ibu adalah perjuangan yang berat, tapi kebahagian akan datang ketika melihat wajah bayi yang lucu itu tersenyum sehat.
Dan saya bahagia karena berhasil melewati masa itu. Bayi kami lahir dalam kondisi sehat. Alhamdulillah... Irham Gita Adhilfa, selamat datang ke duania nak, semoga kau jadi anak yang sholeh dan sehat ya...

irham, 1 day old [3,4 kg]

irham, 1 day old

Tidak ada komentar: