Selasa, 01 Maret 2016

cerita di sepenggal siang


Duduk di bawah pohon rimbun di gedung pusat kampus sambil menikmati angin yang bertiup nakal bersama Abi adalah saat-saat kunanti. Sesekali kulihat sudut mata  Abi mengerling menatapku tetapi buru-buru dibuangnya jauh.

 “Akan seperti apakah kita 10 tahun lagi Er? Masihkah kita bisa memandang langit yang sama ditemani buaian angin yang nakal ini?” Mata Abi menerawang jauh.

Aku hanya terpekur diam.

“Entahlah, semoga saja langit akan tetap di sana untuk kita 10 tahun lagi,” jawabku sekenanya.

“Er...,” panggil Abi.

Aku menoleh dan menunggu kalimat selanjutnya. Yang kudapat hanya diam. Aku tetap menunggu. Lima menit berlalu, perkataan Abi terhenti. Abi selalu seperti ini, selalu ada yang ingin diungkapkan tetapi batal diucapkan.

“Bi..., tadi mau bilang apa?” akhirnya aku tidak tahan untuk bertanya.

“hmm... ,” Abi masih bimbang. “kamu akan tetep jadi tempat aku berbagi kan?”

Aku terdiam tapi mengangguk mantap. “Pasti, Bi..”

Angin mulai bertiup nakal lagi mempermainkan ujung poniku sementara Abi memandang daun-daun kering yang ikut diterbangkan angin.

“Er, lihatlah daun-daun itu. Mereka berkejaran ditiup angin. Pergi menurutkan angin menyuruh mereka pergi. Awalnya mereka bersama namun ketika angin datang, mereka terpisah. Mungkin nanti saat angin menginginkan mereka bertemu, mereka akan bertemu juga. Walau mereka tetap ingin bersama namun nasib membawa mereka ke tempat yang berbeda. Mereka berpisah tanpa ada kesedihan.” Abi terdiam lagi.

“Er, mungkinkah kita seperti mereka?”

Aku menelan ludah. Menatap mata Abi meminta kepastian. Mencari makna dibalik pertanyaannya. Aku menunduk mencoba mengambil benang merah dari perumpaan Abi tentang daun-daun yang terbang ditiup angin. Diawali kebersamaan kemudian nasib memecah kebersamaan itu dan memaksa mereka berpisah. Tapi apakah memang mereka berpisah tanpa kesedihan? Setiap perpisahan pasti ada segelintir kesedihan karena setiap pertemuan juga pasti ada segelintir kebahagiaan.

Tidak ada jaminan kalau mereka berpisah kemudian suatu waktu lagi mereka akan dibawa nasib untuk bertemu. Bukankah di tempat yang berbeda mereka akan menjumpai pertemuan baru dengan yang lain dan disana salah satu dari mereka akan menemukan kebahagiaan yang baru pula. Lalu apa yang harus dipegang supaya mereka bisa bertemu dan bersama lagi? Sebuah janji belaka? Ataukah sebuah ikatan yang lebih dari sekedar janji? Perpisahaan tetap meninggalkan kesedihan. Dan menikmati kesedihan sungguh tidak menyenangkan. Siapa bilang kesedihan adalah bagian dari hidup yang harus dilewati. Kadangkala aku tidak mau kesedihan datang menyapa hidupku. Bagiku perpisahaan adalah kesedihan. Aku tidak mau bersedih untuk perpisahan yang seharusnya tidak terjadi.

Mungkin angin memang menjalankan kewajibannya untuk menerbangkan daun-daun itu. Tapi jika saja daun-daun itu tetap bergandengan, niscaya angin akan menerbangkan mereka ke tempat yang sama? Dan tidak akan ada perpisahaan di antara mereka.

“Er...,” Abi memecah keheningan. “Kenapa hari ini kamu begitu diam? Tidak seperti biasanya berceloteh seperti burung menceritakan kejadian-kejadian yang menyapamu setelah dua tahun kita tidak bertemu?”

Aku masih terdiam.

“Er, ada yang salah dengan perkataanku?”

Aku masih terdiam. Tangan Abi perlahan menyentuh lembut tanganku.

“Erin, ....,”

Aku masih terdiam dan mencoba meredam dadaku yang berdetak kencang. Abi, laki-laki yang telah kukenal hampir 7 tahun sejak aku menginjakkan kaki di kampus sebagai mahasiswa baru, laki-laki yang selalu berhasil membuat hatiku kacau itu sekarang menyentuh lembut tanganku. Ini baru pertama kali dia lakukan. Aku selalu menunggu dia mengucapkan atau melakukan sesuatu yang romantis untukku seperti di film atau drama-drama korea sejak mahasiswa dulu. Sayangnya itu tidak pernah terjadi, jadi aku mengubur dalam-dalam harapan itu. Mungkin aku hanya akan jadi orang spesial sebagai temannya saja, tidak lebih.

Dan kini, apa yang Abi lakukan? Bercerita tentang perpisahan dan mengenggam erat tanganku? Oh, Tuhan sekarang aku sungguh tak bisa bicara. Mulutku terkunci dan tenggorokanku terasa pekat. Sementara dadaku juga tidak bisa diajak kompromi supaya tidak berdetak kencang. Apakah ini yang dinamakan simfoni jatuh cinta?

Orang bilang, jatuh cinta itu tidak bisa dipaksakan. Jatuh cinta juga tidak dapat ditebak kapan akan datang. Tapi aku yakin cinta akan datang tepat pada waktunya sehingga dia akan terlihat indah seperti pelangi yang tiba-tiba saja hadir di ufuk langit membentuk simfoni warna yang indah.

Aku menghela nafas panjang mencoba menganalisa lebih jauh tentang rasa ini. Tujuh tahun yang lalu rasa ini sepertinya pernah aku rasakan ketika aku bertatapan dengan Abi, tapi mengapa sekarang rasanya sungguh berbeda? Terasa lebih menggetarkan hati. Apakah benar cinta itu telah ada di hatiku sejak tujuh tahun yang lalu? dan sekarang cinta itu bagai disiram air dan pupuk sehingga tiba-tiba saja dia mekar tanpa mau menunggu pengakuan dari Abi?

Di mataku Abi seperti tidak membutuhkan pengakuan itu. Tapi di lubuk hatiku terdalam aku butuh itu dan aku tidak berani memintanya untuk melakukannya. Tujuh tahun berlalu, dan pertemuan kali ini terasa sangat berbeda.

Aku masih terdiam dan berharap Abi mengucapkan kata-kata pengakuan bahwa aku adalah tambatan hatinya, bahwa dia mengakui telah jatuh cinta kepadaku atau memintaku menemani sisa hidupnya. Oh, betapa indahnya jika dia bersedia mengucapkan itu sekarang.

“Erin.., “ Abi mengangkat daguku perlahan.

Aku semakin tercekat saja. Dadaku juga semakin bergemuruh.

“Aku tidak bisa menemukan orang sepertimu. Hanya kamu yang bisa kuajak duduk memandang langit dan bercerita tentang masa depan. Tahukah kamu Er, dua tahun berpisah darimu membuat hatiku kosong. Jakarta tempat yang membuat hatiku sumpek.” Mata Abi menerawang jauh.

Aku masih terdiam. Menunggu.

“Aku bagai daun yang diterbangkan angin. Sekarang aku ditiup sampai Jakarta. Aku tidak tahu kemana angin akan meniupku lagi. Mungkin lebih jauh lagi dari Jakarta. Bukankah kamu pun begitu Er? Kamu perempuan cerdas dan tidak mungkin hanya berdiam diri berpangku tangan saja. Angin juga telah meniupmu. Dan angin telah memisahkan kita dengan tiupannya. Angin meniup kita di tempat mana kita bisa mengais rejeki. Tak perlu naif, karena kita butuh uang.”

Tangan Abi masih menggenggam tanganku erat.

“Er, bulan depan aku dipindah tugas ke Dubai,” suara Abi bagai gemuruh di telingaku.

Aku menatap Abi tidak percaya. Dubai?? Sungguh jauh dari Jakarta. Ketika Abi memutuskan menerima tawaran pekerjaan di Jakarta, dia berjanji untuk meluangkan waktu bertemu denganku. Namun pada kenyataannya kesibukannya bagai pengulur waktu untuk bertemu. Dua tahun berlalu dan kini ketika akhirnya kami bertemu dan bisa memandang langit yang sama, Abi malah akan terbang jauh lagi. Mataku mulai berkaca-kaca. Dalam hati aku memohon, “Bi.., bicaralah hal yang lain saja.”

“Er, aku sungguh membutuhkanmu. Ak...uu menaruh harapan padamu.” Abi bicara pelan.

“Erin, aku sungguh mencintaimu...,” suara Abi mendesah sambil memandangku lembut.

Sekali lagi aku tercekat. Aku sudah tidak bisa membendung air mata ini untuk tidak menetes. Akhirnya setelah tujuh tahun menunggu, aku mendengar kalimat itu keluar dari mulut Abi.

“Aku tahu, tidak mudah membawamu pergi terbang bersamaku Er. Ada banyak tanggungjawab di pundakmu. Aku tahu itu. Menemani dan merawat ibumu adalah sebuah tanggungjawab besarmu. Stroke yang datang menyapa ibu tidak bisa disalahkan. Kamu adalah anak satu-satunya, pastilah ibu berharap besar kau temani di sisa umurnya. Melihatmu sukses berkarier dan berharap kau hadir di penghujung hari untuk mendengar celotehanmu tentang aktivitasmu di kantor pasti menjadi saat yang ditunggu-tunggu beliau setiap harinya. Kalau kau kuajak terbang bersamaku mengikuti angin membawaku pergi, apakah aku telah berlaku jahat pada beliau?? Sementara kau tahu pasti bahwa aku lebih bahagia diterbangkan angin jauh dari sini. Aku ingin meninggalkan rasa yang telah melukai hatiku di rumah. Aku ingin terbang jauh bersamamu. Katakan padaku Er, apa yang harus kulakukan?,” Abi berkata panjang lebar seolah-olah kalimat yang keluar dari mulutnya telah dihafalnya berkali-kali supaya tidak salah ucap.

Demi mendengar penjelasan Abi yang panjang itu, air mataku meleleh. Ternyata Abi membutuhkan waktu yang lama untuk merangkai kalimat yang tepat. Romantisme ini berbeda dengan film atau drama korea yang sering aku lihat. Pertemuan ini sungguh membuat hatiku kacau.

Aku sudah sesenggukan menahan tangis. Tidak ada kata-kata yang bisa kuucapkan dan yang kurasakan genggaman tangan Abi semakin erat.

“Katakan padaku Er, kamu juga akan mengikuti angin membawamu pergi dan berjanjilah suatu saat kita akan bertemu dan bergandengan tangan untuk membiarkan angin meniup kita terbang bersama. Memandang langit yang sama dan membiarkan angin nakal itu mempermainkan ponimu lagi. Entah berapa lama itu akan terjadi. Dan biarlah waktu yang membantu aku melebur egoku. Membabat rasa marah yang tak berkesudahan pada takdirku dan menyemai rasa mengalah hingga suatu saat aku datang menjemputmu untuk terbang bersamaku. Bersediakah kau Er? Aku menaruh harapan padamu. Hanya kamu yang mengerti tentang perasaanku, hidupku dan keluarga yang tak mengharapkan aku lahir. Hanya kamu Er...,” Abi memohon dengan iba.

Air mataku masih menetes. Oh, mengapa hidupku jadi semakin rumit saja? Melepaskan Abi tanpa harapan untuk dapat memiliknya mungkin akan lebih mudah kulakukan daripada melepasnya tapi harus meregang waktu untuk menunggunya kembali. Keputusan yang tidak mudah diambil. Aku tahu Abi adalah pribadi yang rapuh dibalik tubuhnya yang kekar itu. Emosinya kadang bagai rollercoaster jika tidak ada yang mengendalikan. Kondisi orang tuanya yang berpisah dan tidak mengharapkan kelahirannya tampaknya menjadi alasan yang bisa dituding atas pribadi Abi itu. Aku seakan hadir dalam hidup Abi sebagai peredam emosinya.

Bersama Abi, aku merasakan kehangatan berbalut bahagia ketika mendengar dia merangkai kalimat membicarakan hidup dan kehidupan. Abi berbicara seolah sedang merangkai bunga yang memercikkan aroma wangi. Sementara Abi akan dengan senang hati mendengar aku berceloteh apa saja yang kutemui dan kurasakan setiap harinya. Ini sebuah simfoni hati yang indah seandainya angin tidak menerbangkan kami ke tempat yang berbeda.

“Erin....,” panggilan Abi menghentikan pikiranku yang melayang kemana-mana.

“Eh, ya...”

Abi memandangku seolah menunggu jawabanku atas permintaannya tadi. Aku masih terdiam dan mencoba merangkai kata.

“Iya Bi.. mungkin kita ditakdirkan untuk saling melengkapi hati masing-masing karena aku merasa nyaman bila ada di dekatmu begitupun kau. Tuhan memberi kita kekuatan untuk memilih ingin diterbangkan kemana oleh angin. Kau memilih diterbangkan angin sampai ke Dubai dan aku memilih diterbangkan angin di sini. Itu sekarang. Mungkinkah esok kita bisa memilih angin menerbangkan kita ke tempat yang sama? “ aku memandang Abi sekali lagi.

Abi terdiam. Matanya menerawang memandang langit seolah ingin mencari kata-kata yang disembunyikan awan.

“Er, esok setelah angin menerbangkanku ke Dubai, aku akan memintanya menerbangkan aku kembali ke tempat yang sama denganmu. Akan kutulis permintaanku itu di sini,” Abi mengambil tanganku dan meletakkan di dadanya. “Aku hanya butuh waktu untuk melebur semua yang tidak mengenakkanku di sini.”

Aku mengangguk. Aku percaya janji Abi.

“Aku akan kembali padamu Er.. dan berjanjilah padaku jangan biarkan angin membawamu terbang jauh. Percayalah kita akan memandang langit bersama hingga ujung waktu. Bersama. “

Sekali lagi aku mengangguk dan membiarkan Abi merengkuhku dalam pelukannya.

“Kita berpisah dan kita pasti akan bertemu lagi. Bukankah ketika ada pertemuan pasti ada perpisahan? Begitu juga sebaliknya.”

Dan angin kembali meniup poniku dengan nakal.

















9 komentar:

Titis Ayuningsih mengatakan...

Wah, cerpennya menarik ya Mbak

Irawati Hamid mengatakan...

pergi untuk kembali yah Mbak :)

Lidya Fitrian mengatakan...

wah mbak entik bisa nulis cerpen, aku nyerah deh mbak :) good luck ya

entik mengatakan...

@titis: hehe...makasih ;)

entik mengatakan...

@irawati; ya pergi untuk kembali. rada klise ya? hehe..

entik mengatakan...

@mba lidya: itu pas lagi mood nulis mba, kalau ga mood ya susah nyari idenya hehe..

Isma mengatakan...

so sweet jeng entik, bermain fiksi
semoga menang ya give awaynya amiiin.

Santi Dewi mengatakan...

huwaa... sedih

Santi Dewi mengatakan...

fiksinya bagus mba... :)