Jumat, 28 Februari 2014

I want to be a wonderful wife

kebetulan ada GA-nya mba ida tentang " wonderful wife", jadi pengan nulis tentang istri yang versi saya. Jadi postingan kali ini tentang pengalaman saya yang sudah 8 tahun 6 bulan menyandang status sebagai seorang istri.

Sebelum menikah, saya tidak punya gambaran bagaimana menjadi seorang istri  yang baik itu. Membayangkan mengurus suami, beradaptasi dengan keluarga besar suami, dan mengatur kehidupan rumah tangga sendiri saja rasanya sudah gimana gitu.

Setelah berpikir panjang dan menyiapkan mental, akhirnya saya menikah di umur 25 tahun lebih 6 bulan. Ternyata kalau membayangkan bagaimana menjadi istri yang solikhah itu sulit, akan lebih mudah kalau kita mencoba menjalaninya dan belajar untuk menjadi yang solikhah buat suami.

Saya menyadari selama 8 tahun ini, saya masih belajar untuk mencoba menjadi istri yang terbaik untuk mas.
kadang mood untuk selalu menjaga sikap yang baik dan manis di depan mas juga naik turun (#maaf ya mas.., hehe ngaku).
Tapi ternyata sungguh, pengalaman selama ini mengasah saya untuk memperbaiki diri. Saya ingat kata-kata mario teguh, kalau kita ingin suami kita sesuai dengan idealita kita maka mulailah menjadikan diri kita sebagai istri yang ideal untuk suami kita. Sangat adil bukan?

tiga kriteria wonderful wife menurut saya, saya tulis dibawah ini;
langkah awal mencapai wonderful wife yang saya lakukan adalah memulai dari diri saya sendiri dulu untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Contohnya, saya selalu ingin mas adalah orang pertama yang saya cari ketika saya ingin berkeluh kesah tentang apa pun, entah itu tentang pekerjaan kantor, anak-anak, keluarga atau tentang kegalauan di hati saya. Saya ingin mendapatkan seorang pendengar juga yang bisa memberi saran yang menyejukkan. Nah, untuk mendapatkan itu, saya juga harus menjadi seorang pendengar yang baik untuk semua keluh kesah mas, jadi penyejuk hatinya ketika kegundahan hati datang.
Ini juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan, karena setiap orang selalu berharap keinginannyalah yang kalau bisa dipenuhi terlebih dulu baru keinginan pasangannya.
Terkadang saya gagal menjadi pendengar yang baik dan memberi komentar yang menyejukkan. Ketika saya menyadari, saya secepatnya meminta maaf untuk mencairkan suasana yang menjadi tidak enak. Tapi sungguh, saya beruntung mempunyai suami yang mood hatinya tidak cepat berubah-ubah sehingga sangat membantu saya menjaga mood hati saya untuk selalu bersikap manis di depan suami.
Saya dan mas juga sering mencari waktu  "me time" bagi kami. Sekedar jalan berdua, makan diluar atau menyempatkan ke bioskop tanpa anak-anak. "Me time" benar-benar bisa me-refresh perasaan diantara kami.

Yang tak kalah penting adalah pandai-pandainya istri menciptakan suasana bahagia di rumah, dijamin suami dan anak-anak juga akan terbawa bahagia.
Sebaliknya kalau istri mood-nya pas lagi jelek, pasti suami dan anak-anak juga ikutan ber-mood jelek.

selanjutnya, saya selalu menjaga bahwa suami adalah kepala keluarga, jadi sebisanya saya tidak membantah dan menurut suami. Jadi semua keputusan yang berkaitan dengan keluarga, mas-lah yang memutuskan. Yang jelas saya selalu memberi masukan tapi yang memutuskan tetap mas, walau kadang keputusan mas itu sama dengan masukan yang saya berikan.
Saya juga tidak ngoyo bekerja di kantor - alias tidak terobsesi berprestasi tinggi di kantor- karena biar bagaimana pun saya tidak wajib untuk mencari nafkah. Anak-anak dan keluarga adalah prioritas saya. Sejak punya anak ikhsan, saya sering menolak tugas keluar kota karena tidak tega meninggalkan anak-anak. Disuruh untuk kuliah S2 lagi, saya juga masih mikir-mikir. Saat ini saya benar-benar sedang menikmati masa-masa menjadi ibu rumah tangga.
jadi kalau ditanya orang saya kerja dimana? saya selalu menjawab, saya adalah ibu rumah tangga yang nyambi kerja jadi pegawai kantoran.

menjadi istri yang baik otomatis harus menjadi ibu yang baik untuk anak-anak. Karena ikhsan-ikhfan masih kecil, jadi mereka lebih dekat dengan saya apalagi bapakna sering tugas keluar kota. Sebisa mungkin, saya meluangkan waktu lebih banyak dengan anak-anak dan kebutuhan mereka saya penuhi.
Sepulang kantor, yang pertama saya pegang adalah si kecil ikhfan karena setiap melihat saya datang, ikhfan pasti merengek minta ASI. Setelah ikhfan tidur, saya menemani kk ikhsan belajar dan menyuapi makan malam. Selanjutnya menemani tidur sambil ngobrol-ngobrol tentang kegiatannya tadi siang di sekolah. Biasanya setelah ngobrol, kk ikhsan akan terlelap dengan sendirinya.
Bahagia rasanya melihat anak-anak bisa tumbuh sehat dan dalam emosi yang sehat juga. Saya juga masih terus belajar untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak. Harus belajar banyak mengelola emosi menghadapi anak-anak yang kadang bertingkah tidak sesuai dengan harapan saya.
Saya berusaha menerapkan positive parenting dalam mengasuh ikhsan-ikhfan, walaupun tidak mudah tapi saya tetap berusaha dan belajar.

Anak-anak adalah amanah dari Allah, semoga saya bisa menjaga amanah itu dengan baik.


oya, untuk blog mba ida sudah ok, sering-sering BW ke blogger yang dari yogya mba..., karena saya juga tinggal di sleman-yogya ;)

artikel ini diikutsertkan dalam GA wonderful wife by ida nuer laela

6 komentar:

Lidya Fitrian mengatakan...

semog akita selalu bisa menjaga amanahnya ya mbak

Mayya mengatakan...

Semoga kita bisa menjadi istri yang menyejukkan hati suami ya mbak :)

Fitri3boys mengatakan...

Insya allah dah jadi wonderful wife jeng..

Ida Nur Laila mengatakan...

maak aku berkunjung ke Sleman nih...slemannya mana ya...
? makasih udah ikutan

hbr-online.com mengatakan...

Mesra Euy... Ngiri liatnya....

isma mengatakan...

amiiin jeng entik. kalau baca ceritanya, insyaallah sudah wonderful :)