Rabu, 23 Juli 2014

masjid Muhajirin Perumnas Condongcatur


foto ini saya ambil di depan masjid muhajirin perumnas condongcatur, sleman, yogya, ketika sholat jumat tanggal 11 Juli 2014. Karena mesjid ini adalah mesjid paling besar di lingkungan tempat tinggal saya, jadi ketika sholat jumat, jamaahnya tumplek sholat disini. Bisa dilihat jumlah motor yang diparkir, halaman mesjid tidak mampu menampungnya, jadi parkiran motor meluber sampai pinggir jalan.
spanduk pengajian akbar yang diadakan mesjid lain pun dipasang di depan mesjid muhajirin. Itu karena jamaah masjid Muhajirin lumayan banyak jadi diharapkan baca spanduk itu dan bisa datang ke acara pengajian akbar di masjid Quwatul Islam.



Senin, 21 Juli 2014

ikhfan -2 tahun

tanggal 20 Juli 2014 kemaren, ikhfan genap berusia 2 tahun. Ga ada perayaan khusus buat adek ikhfan. Kakak ikhsan dan mas kompakan ngajakin buka bersama di resto Mr. Blangkon untuk ngerayain ultah adek. Akhirnya saya iyakan dan acara ultah adek diisi dengan buka bersama orang serumah aja, saya, mas, kakak, adek dan mba fitri (asisten saya).


Selasa, 15 Juli 2014

foto keluarga


Apakah teman-teman blogger pernah membuat foto keluarga?
Pasti sebagian besar jawabannya pernah. Saya juga pernah dan tidak hanya sekali. Kalau saya ditanya apa alasan saya membuat foto keluarga karena saya ingin mendokumentasikan moment keluarga. Setiap kali saya melihat foto keluarga yang telah dibuat, rasanya seneng saja. 

Jaman sekarang ketika era digital benar-benar membanjiri kita, urusan berfoto dan bernarsis menjadi sesuatu yang sangat mudah dan menyenangkan. Mengambil foto tidak harus memakai kamera digital tapi dapat menggunakan hape, kita bisa mengambil foto kapan pun dan dimana pun. Apalagi sekarang kamera hape sangat mengakomodir kebutuhan berfoto sendiri alias foto selfie.
Nah, sekarang bisa disurvei.. pengguna hape pasti mempunyai file foto lebih dari 20 file hasil jepret-jepret dengan kamera hape.

Balik ke foto keluarga. Sebagian besar foto keluarga yang saya buat di studio foto. Ga tau ya, rasanya mantep aja kalau foto di studio dan kita diarahkan gayanya oleh fotografer. Pertama kali membuat foto keluarga, ketika saya berumur sekitar 8 tahun. Saya, kakak dan adik diajak ibu ke studio foto dan dijepret-jepret. Jaman dulu kalau difoto gayanya masih rada formal dan kaku gitu. Setelah itu fotonya dicetak ukuran gede dan dipigura. Dulu, ibu saya senang sekali memasang pigura foto di dinding. Tidak hanya foto keluarga, tapi juga foto wisuda anak-anaknya. Jadi di dinding ruang tamu keluarga kami, terpasang foto-foto wisuda sarjana kami.

Sekarang setelah saya menikah, saya pun mulai senang memasang pigura foto di dinding ruang keluarga rumah saya. Foto-foto itu  menggambarkan perjalanan kehidupan keluarga kecil kami. Perjalanan kehidupan kami yang awalnya hanya terdiri dari saya dan mas, kemudian di tahun kedua hadir kakak ikhsan. Sampai sekarang di tahun ke sembilan anggota keluarga kami bertambah dengan hadirnya adek ikhfan.

Menurut saya setiap moment memang sebaiknya diabadikan, walau tidak setiap file foto akhirnya dicetak dan dipajang di dinding. Saya senang mengabadikan setiap moment yang saya lewati. Entah foto itu saya share ke media sosial atau hanya untuk dilihat sendiri saja. Karena pada setiap foto pasti ada cerita di belakangnya. Saya juga ingin kakak ikhsan dan adek ikhfan bisa melihat perjalanan kehidupan mereka melalui foto yang ada di dinding rumah mereka. Dengan harapan mereka bisa merangkai cerita-cerita tentang foto-foto itu dan menyimpan kenangan bahagia di hati mereka tentang keluarga.

Bagaimana dengan teman-teman? Apakah punya cerita tentang foto keluarga?

ini beberapa foto keluarga yang pernah saya buat.

note: foto ini diambil tahun 2008 di calista studio, ketika ikhsan berusia 2 tahun


note: foto diambil di kebun teh kemuning bulan desember 2012


note: foto ini dibuat bulan mei 2014 kemaren di kanaya studio, ketika ikhsan berumur 7 th dan ikhfan berumur 1 th 10 bulan.


note: foto ini juga diambil di kanaya studio (ikhsan 7th & ikhfan 1 th 10 bl)

note: ini foto keluarga besar saya yang diambil tahun 2011 di sampurna studio 
(adek ikhfan belum lahir, jadi ga kliatan di foto ;)

Kamis, 05 Juni 2014

senyum bertiga

mbak ratna-mbak rahma-saya

Mba ratna, mbak rakhma dan saya adalah kakak beradik. Usia kami hanya terpaut 2 tahun saja.   Semenjak kecil, ibu kami sering memakaikan kami baju kembaran. Jadi kami sering terlihat seperti anak kembar tiga.

Saat pernikahaan adik laki-laki kami di tahun 2010 yang lalu, merupakan moment kami untuk bertemu dan memakai baju kembaran seperti saat kami kecil dulu. Walau terpisah jarak dan waktu karena kami tinggal di kota yang berbeda, tapi senyum kami membuktikan bahwa hati kami selalu dekat.
 

Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Blog CIMONERS


Jumat, 30 Mei 2014

sore di alun-alun kidul yogya

hari minggu sore yang lalu kami menghabiskan sore di alun-alun kidul yogyakarta.Yogyakarta mempunyai 2 alun-alun. Satu ada di depan keraton Yogyakarta yang sering disebut alun-alun lor (utara) dan yang satu ada di belakang Keraton yang disebut alun-alun kidul (selatan).

di alun-alun kidul ada dua pohon beringin besar. banyak orang yang mencoba masangin atau berjalan masuk di antara dua pohon beringin itu dengan mata tertutup.
Caranya sangat sederhana yaitu kita menutup mata lalu berjalan lurus sekitar 20an meter dari depan Sasono Hinggil menuju tengah-tengah pohon beringin. Sepertinya mudah, tetapi tidak semua orang yang mencobanya berhasil melewati dua pohon beringin di alun-alun kidul ini karena tentu saja berjalan tanpa melihat pasti jauh lebih sulit bila mata tidak tertutup.
Menurut mitos, hanya orang yang bersih hatinya saja yang bisa melewatinya.Kalau dalam pengertian luas, permainan masangin ini menyampaikan pesan bahwa untuk mencapai apa yang diinginkan kita harus berusaha keras dan tetap menjaga kebersihan hati. Untuk mencoba permainan ini kita bisa menyewa penutup mata seharga 5 ribu rupiah.

Selain permainan masangin. di alun-alun kidul banyak penjual mainan buat anak-anak kayak layang-layang, gelembung sabun bahkan anak ayam warna-warni.
yang seru lagi, ketika hari mulai gelap akan banyak odong-odong yang bisa dikayuh dengan hiasan lampu warna-warni yang disewakan. Cukup dengan 30 ribu rupiah, kita bisa menyewa odong-odong dan mengayuhnya mengelilingi alun-alun kidul. Setelah lelah mengayuh, bisa dicoba minum ronde sambil duduk lesehan dan menikmati malam di alun-alun kidul.

Nah, di alun-alun kidul, Ikhsan dan mas mencoba bermain layang-layang dan gelembung sabun. Sementara ikhfan lebih senang melihat penjual anak-anak ayam yang berwarna-warni sambil berlarian ke sana ke mari.

mari dilihat foto-foto kami ketika di sana...

sibuk megang anak ayam yang berwarna-warni

Jumat, 16 Mei 2014

cerita siemen pertama-ku

sekarang kemana pun pergi, setiap orang pasti bawa hape. Tidak hanya satu tapi terkadang dua masih ditambah gadget lain seperti tablet maupun netbook. Saya teringat 12 tahun yang lalu ketika saya belum punya ponsel. Waktu itu rasanya santai aja ga punya hape. Ga sms atau telpon lewat hape belum merupakan sesuatu yang aneh. Nah kalo sekarang, hape tertinggal di rumah aja sudah bingung banget, kayak separuh hidup ga kebawa ajah ;)

Pengalaman saya punya hape pertama, waktu awal jadi pegawai kantoran. Ada orang yang berbaik hati mau memberi saya hape bermerek siemen C35. Alasannya biar mudah menghubungi saya sewaktu-waktu kalau kangen. Aih, tapi waktu itu saya masih sok gengsi menolak pemberian hape dari cowok ganteng yang sekarang jadi bapakna anak-anak. Heran dewh dulu kok gengsinya tinggi banget nolak pemberian hape gratisan...akhirnya si siemen c35 tidak jadi milik saya. Ketika dulu mas menanyakan alasan saya menolak hape pemberiannya, alasan saya sederhana, saya belum membutuhkan hape untuk saat itu. (alasan yang sok anti perkembangan teknologi banget dewh...)

Sampai sekarang saya masih sering geli sendiri dengan kejadian penolakan hape itu hehe....

si siemen C35 yang tidak jadi milik saya karena sok gengsi ;(
gambar diambil dari http://www.handsetdetection.com

Senin, 05 Mei 2014

makan mie aceh

Dua minggu ini saya penasaran banget makan yang namanya mie aceh. Itu karena selama 2 minggu terakhir ini, mas dua kali bolak-balik tugas ke aceh. Setiap kali saya telpon, mas selalu cerita seringkali diajak makan mie aceh.
Akhirnya minggu kemarin kesampaian juga saya makan mie aceh berdua mas karena kebetulan sekarang di djogja warung makan masakan khas aceh mulai banyak.

Mencari waktu pergi berdua saja sekarang agak repot karena kakak ikhsan pasti merengek ikut kalau tahu ibu-bapaknya mau pergi. Nah, sabtu kemaren kita sengaja nunggu anak-anak pada tidur siang. Jam setengah 3-an sore akhirnya kakak adik pada tidur siang bareng. Da..aan sukses dewh kita jalan keluar ;) sekaligus ngicipin mie aceh.
Pertama kali yang dituju addalah galeria mall., jarang bisa nge-mall berduaan hehe..., Puas nge-mall, kita mampir di warung makan masakan khas aceh pidie di daerah sagan sebelah utara galeria.

 ini dia mie goreng aceh pesanan saya

 mari makan..;)

Kalau menurut saya rasa mie aceh, memang agak berbeda dengan mie godog jawa, mie goreng surabaya atau pun indomie ;) Ada taburan kacang goreng dan acar segar plus kerupuk.
Saya  dan mas pesan mie goreng aceh telor dadar tanpa cabe, maklum perut kami sangat tidak bersahabat dengan pedasnya cabe. Mas memilih jus timun untuk menemani mie goreng-nya. Kalau saya sih lebih seneng jus jambu.

Sebagai oleh-oleh buat kakak-adik di rumah, saya pesan mie rebusnya. Eh, sampai rumah ternyata mereka sudah pada makan, mie rebusnya jadi jatahnya eyang. Komentar eyang, cita rasa mie rebus-nya cocok banget sama lidah eyang.

sii..ip dewh besok kapan-kapan bareng-bareng krucils dan eyang nyobain lagi makan mie aceh dan menu masakan aceh lainnya. Hayo...siapa mau gabung? ;)