Aih, ternyata ketika mas suami
menyerahkan gaji bulanannya dan meletakkan tanggungjawab mengelola uang, bikin
saya shock juga. Uang segini banyaknya harus bisa dialokasikan ke pos-pos
kebutuhan kami berdua dan terkadang kebutuhan keluarga besar kami.
Sabtu, 13 Mei 2017
Merencanakan Keuangan Keluarga
Tidak saya sangka sebelumnya
bahwa ketika saya memutuskan untukmenerima lamaran mas suami dan menikah, saat
itu juga saya “dilantik” jadi manajer keuangan keluarga. Keren ya? Tapi dipercaya mas suami untuk mengelola dan
mengatur keuangan keluarga kecil kami tanpa pengetahuan tentang keuangan
sebelumnya adalah sebuah tantangan besar bagi saya. Dulunya sebelum nikah, saya
rasanya bebas saja menggunakan uang gaji bulanan saya sesuai keinginan saya. Kalau
dalam sebulan uang gaji habisa tak bersisa, biasa saja karena waktu itu saya
belum punya planning keuangan terhadap hidup saya. Maklum masih single jadi
rasanya masih free tanpa ikatan hehe..
Selasa, 09 Mei 2017
Family trip: Batavia-Ancol
Hari kedua, anak-anak langsung
bangun pagi dan semangat untuk pergi ke Ancol. Jam 7 pagi mereka sudah mandi
dan siap untuk sarapan. Baiklah, mari kita mulai hari ini dengan semangat
anak-anak...
Selesai sarapan, mas suami order
go car dan tak berapa lama pun kami meluncur menuju Ancol. Hanya 15an menit
kami sudah masuk gerbang Ancol. Tujuan pertama kami adalah Sea world. Walau
belum ada jam 9, ternyata pengunjungnya sudah banyak.
Cerita perjalanan hari pertama ada di sini
Dengan tiket seharga 110 ribu per
orang kami masuk Sea World. Ketika masuk, tangan kami dicap oleh petugas supaya
nanti bisa keluar-masuk Sea World secara bebas dalam hari itu dengan sekali
beli tiket. Begitu masuk kami langsung disambut oleh suasana redup-temaram dan aneka
aquarium dengan bermacam-macam jenis ikan laut.
Senin, 01 Mei 2017
family trip : ke Batavia
Di era sekarang ketika rutinitas
hidup melahirkan kejenuhan, tidak dipungkiri lagi bahwa acara refreshing bareng
keluarga atau orang-orang terdekat merupakan momen yang ditunggu. Saya sendiri
juga heran, mengapa sekarang rasa jenuh dan bosan gampang banget datang setelah
terjebak rutinitas dan tekanan pekerjaan. Jalan bareng suami dan anak-anak ke
tempat wisata bareng ternyata membuat hati sejenak refresh dari kejenuhan. So
kayaknya kebutuhan akan liburan atau apalah namanya adalah suatu kebutuhan. Ya
walaupun termasuk kebutuhan tersier, kalau bisa dipenuhi rasanya pua..aas
banget. Tidak mengherankan ketika ada tanggal merah dan jatuh di hari jumat
atau senin, jalanan menuju tempat wisata bakal macet dipenuhi wisatawan.
Nah, long weekend tanggal 22-24
April kemarin, saya , mas suami dan ikhsan-ikhfan jalan-jalan ke Jakarta. Kok ke Jakarta? Ga ke daerah wisata alam aja?
Jumat, 21 April 2017
Mengikuti Jejak Kartini
Bulan April memang afdol banget kalau ngomong tentang perempuan. Ya momentumnya pas karena tanggal 21 April itu hari lahirnya Ibu Kartini. Semangat Kartini sebagai perempuan yang mempunyai keinginan untuk menuntut ilmu masih terus menggelora hingga kini.
Saya sendiri memaknai pemikiran Kartini itu sebagai
hak asasi bagi perempuan untuk menjadi cerdas. Apakah perempuan perlu menuntut
ilmu? Kartini dulu sangat mengharap mendapat kesempatan untuk sekolah dan
sangat kecewa ketika tawaran beasiswa ke Belanda dan Batavia urung diambil.
Pemikiran Kartini untuk mencerdaskan dirinya yang notabene perempuan di jaman
dulu memang penuh dengan tentangan adat jawa yang menabukan perempuan terlalu
banyak berkiprah di luar rumah. Hingga kini urusan kesempatan perempuan untuk
sekolah atau menuntut ilmu tidak sepenuhnya mulus. Adakalanya memang urusan
sekolah menjadi terhambat karena alasan klise biaya atau bahkan tidak adanya
keinginan perempuan itu sendiri untuk sekolah. Dari pengalaman saya, dari 4 ART
saya yang dua lulusan SD dan dua lulusan SMP. Alasan tidak melanjutkan sekolah
dan memilih bekerja adalah soal biaya (ini alasan ART yang luluusan SMP)
sedangkan ART saya yang lulusan SD beralasan sudah tidak mau berpikir lagi.
Sudah males sekolah karena kalau sekolah kan mikir jadi tidak mau dan budaya
masyarakat di daerah asal mereka, para perempuan hanya lulus SD saja karena toh
nanti pada akhirnya mereka akan menikah dan “hanya” akan mengurus anak dan
dapur saja, jadi tidak perlu sekolah yang tinggi. Cukup bisa membaca dan
menulis saja.
Hadew..,saya jadi miris dan tidak bisa komentar
banyak tentang itu.
Selasa, 21 Maret 2017
With or without ART??
Waa...judul postingan kali ini
bener-bener mencerminkan kegalauan dalam hati saya. Yup, pasalnya sejak akhir
Desember 2016 lalu, asisten rumah saya resign tanpa alasan yang jelas. Si mbak ini sudah 4 tahun ikut saya. Pokoknya
seumurannya adik Ikhfan. Kakak Ikhsan dan adik Ikhfan sudah kadung cucok dan
menganggap kayak saudara sendiri.
Gonta-ganti asisten rumah tangga
sudah saya alami sejak saya hamil dan punya anak. Saya sudah tujuh kali ganti
asisten dan si mbak ini adalah yang paling lama. Asisten saya yang lainnya
paling lama bertahan 3 tahun. Rekor paling pendek adalah 24 jam, si mbak datang
sore dan subuh sudah kabur tanpa pesan dan tidak mau balik lagi
Sempat terbersit pikiran di
kepala saya, sebenarnya saya butuh asisten atau tidak sih? Rata-rata teman saya
yang sudah punya anak, pada punya asisten di rumah. Maklum kami adalah
perempuan bekerja yang punya aktivitas di luar rumah dan terkadang harus tugas
keluar kota beberapa hari. Tidak mungkin meninggalkan anak-anak tanpa asisten
di rumah. Tapi ada juga sih temen kantor
yang bertahan tanpa asisten, dengan catatan anaknya semua masuk daycare sampai
jam pulang kantor.
Jumat, 24 Februari 2017
Mengatasi Anak yang Mogok Sekolah
Saya memasukkan Ikhfan ke
playgroup saat usianya menginjak 3 tahun. Ikhfan hanya ditunggu selama 5 hari
dan selanjutnya dia tidak mau ditunggu. Alkhamdulillah saya seneng melihat
Ikhfan bersemangat berangkat sekolah dan bisa belajar bersosialisasi dengan
teman sebayanya. Satu tahun di playgroup, di tahun ajaran baru 2016/2017 saat
genap berusia 4 tahun, Ikhfan masuk TK A dan perubahan drastis pun terjadi.
Ikhfan sama sekali tidak mau ditinggal dan minta ditungguin selama sekolah.
Setiap kali dicoba untuk
ditinggal, tangisannya membahana dan bertahan lama. Alhasil jadi mengganggu
teman-teman yang lain. Di rumah, ketika mau tidur malam Ikhfan selalu ketakutan
dan tidak mau tidur. Alasannya kalau dia tidur, ketika bangun hari sudah pagi
dan akan dipaksa sekolah. Hua...saya jadi bingung, apa yang terjadi dengan
Ikhfan??
Senin, 20 Februari 2017
Aku adalah Anak Lelaki
Mempunyai dua anak laki-laki
membuat saya harus memaklumi hobi para lelaki. Kini di saat kakak Ikhsan
berumur 9 tahun dan adik Ikhfan berumur 4 tahun, rumah dikuasai oleh permainan
aura laki-laki. Mas suami kalau lagi di rumah sering banget ngajakin duo kakak
beradik ini bongkarin mainan yang ada sekrup-nya.
Jadi, beberapa mobil remote
kontrol “hancur” dibongkarin mereka bertiga. Hadew...gini nih kalau 3 laki-laki
sedang menjalankan hobinya, menerima bongkar tapi tidak menerima pasang. Setelah puas bongkarin, terkadang mas suami
menunjukkan cara me-nyolder komponen listrik di mesin mobil remote kontrol dan
anak-anak terlihat heran banget melihat bapaknya bisa me-nyolder komponen
listrik pake tenol dan solder listrik Pokoknya kalau mereka bertiga lagi asyik,
dilarang mendekat dan mengganggu. Biasanya saya mengalah dan mojok di dapur.
Pilih masak aja hehe...
Langganan:
Postingan (Atom)
-
akhir desember tahun 2013 yang lalu saya mendapat undangan pertemuan darmawanita di kantornya mas. Sebenarnya saya agak males datang karena ...
-
hmm..ceita tentang angka TIGA dalam kehidupan saya, yang pertama saya adalah anak keTIGA dalam keluarga saya. Kedua orang tua saya menyematk...
-
Setiap orang pasti ingin berubah menjadi lebih baik. Tapi perubahan tidak akan terjadi kalau tidak dimulai. Tidak sedikit orang yang nyaman...