Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Agustus 2021

Review Buku : Antologi Ibu Rumah Tangga Bisa Apa?


Judul : Ibu Rumah Tangga Bisa Apa

Penulis : Malica Ahmad dkk. 

Penerbit : Dandelion Publisher, cetakan pertama Maret 2021

Menjadi salah satu kontributor tulisan di buku antologi ini sangat membahagiakan karena ini adalah buku antologi pertama saya. Sebenarnya sudah lama saya ingin menerbitkan buku tapi selalu saja maju mundur dan rasanya belum nemu waktu yang pas. Saat ditawari untuk ikut gabung menulis di antologi ini, saya langsung tertarik karena tema yang diangkat adalah tentang perempuan dan ibu rumah tangga.

Tidak sedikit perempuan yang menyandang status ibu rumah tangga mendapat pertanyaan-pertanyaan yang kurang mengenakkan seperti:

“Sudah sekolah tinggi-tinggi sampai jadi sarjana, masak cuma jadi ibu rumah tangga dan tidak kerja. Duh rugi banget..”

Atau pertanyaan lain :

“Sekarang kerja dimana? Hah? Ga kerja? Cuma jadi ibu rumah tangga aja di rumah?”

antologi IRT Bisa Apa?

Rabu, 07 Agustus 2019

Membuat Anggaran Keuangan Keluarga (part 3)

Setelah melakukan evaluasi isi dompet, selanjutnya kita bisa membuat anggaran keuangan keluarga. Sebelumnya mari kita pahami apa itu anggaran? 


Anggaran merupakan suatu rencana yang disusun untuk seluruh kebutuhan pembayaran keluarga dan juga memenuhi rencana di masa depan. Contoh sederhana adalah membuat rencana pengeluaran dalam bentuk membagi penghasilan kita kedalam berbagai pos-pos pengeluaran/kebutuhan rumah tangga.

Kenapa sih kita butuh membuat anggaran? Ribet amat..

Kamis, 20 Desember 2018

Menjadi Ibu itu "Tidak Boleh Sakit"

Ibu adalah "center of power" di rumah. 

Saat mendapat status menjadi Ibu, maka bersiaplah untuk kuat dan sehat mengurus keluarga. Entah itu Ibu yang full di rumah atau Ibu bekerja karena seorang Ibu adalah manajer rumah tangga tempat kontrol semua kegiatan di rumah. Kita tahu, seorang manajer mempunyai tanggungjawab yang besar, nah kalau manajer rumah tangga  apa yang jadi tanggungjawabnya?

Seorang Ibu mempunyai tanggungjawab untuk mengurus dan melayani suami, anak-anak, anggota keluarga lain dan juga dirinya sendiri. Selain itu Ibu harus bisa memastikan kelancaran operasional di rumah mulai dari mengurus kebersihan rumah, penyediaan kebutuhan logistik rumah, merawat dan memastikan semua anggota keluarga terlayani dengan baik.

Wuih.. tanggungjawab yang tidak ringan bukan? secara fisik butuh stamina yang kuat untuk menjalaninya.

Baca :Menjadi Manajer Rumah Tangga

Pekerjaan di rumah adalah pekerjaan yang tidak pernah berakhir. Contoh kecilnya adalah saat piring dan gelas yang sudah dicuci semua hanya akan bertahan sebentar karena dalam beberapa menit akan ada yang mulai mengambil gelas bersih dan menjadi kotor lagi. Pun urusan baju kotor, akan senasib seperti urusan piring kotor.

Lingkaran pekerjaan yang tak pernah usai dan membutuhkan tenaga untuk mengeksekusinya. Apalagi kalau tidak punya ART, sang Ibu akan menjadi orang pertama yang bangun dan orang yang terakhir tidur di rumah. Betul ga? siapa yang sudah mengalaminya? tunjuk tangan…. Toss sama saya kalau sama hehe...

Lalu apa jadinya kalau si ibu sang manajer rumah tangga jatuh sakit??

Minggu, 17 September 2017

Perempuan juga Butuh Bahagia


Sebagai perempuan dan Ibu, apa sih yang kita butuhkan untuk bahagia dan bisa menjalani semua tanggungjawab dengan ihklas dan ringan?

Kalau disodori pertanyaan seperti itu, setiap perempuan akan berbeda-beda jawabannya. Jawaban akan tergantung pada sudut pandang dan realitas lingkungan yang ada pada perempuan. Perempuan yang bekerja kantoran akan beda sudut pandangnya dengan perempuan yang tidak bekerja kantoran. Walaupun mereka sama-sama punya status sebagai istri dan Ibu.

Nah, kalau pertanyaan itu disodorin ke saya, jawabannya apa coba?

Kamis, 24 Agustus 2017

Kelas Merajut Pemula di Gendhis Bags



Nama Gendhis Bags tidak asing bagi pecinta tas rajut. Siapa sih yang tidak tahu Gendhis? Outlet-nya bisa ditemui di jalan Ringroad Barat Yogyakarta. Ketika saya berkesempatan menginjakkan kaki memasuki Gendhis  bersama teman-teman KEB di acara Arisan Ilmu tanggal 17 Agustus 2017 kemarin, mata saya bener-bener dimanjakan oleh aneka tas rajut yang cantik-cantik. Penataan tas di showroom Gendhis sangat artistik dan terkesan eksklusif. Model tas rajutnya pun kekinian dan bikin mata ngiler ajah.

Showroom Gendhis di jalan Ring road Barat ini terdiri atas 2 lantai. Di lantai satu kita bisa temui aneka tas yang di display nan apik dengan suasana lampu yang redup menyejukkan. Naik ke lantai 2, selain tas kita bisa temui aneka pouch batik, asesoris dan juga baju-baju batik. Tinggal pilih aja, mana yang mantap di hati hehe..

view lantai 1 dari lantai 2

Kamis, 03 Agustus 2017

Istri Pinter Memasak, Penting Ga Sih?


Saya pernah menulis di postingan kalau saya itu tidak pinter memasak. Hasrat untuk memasak untuk suami dan anak-anak sebenarnya ada di dalam lubuk sanubari tapi untuk merealisasikannya banyak tantangannya. Mulai dari males, ga tahu bumbunya, ga tahu cara masaknya dan kalau dipaksa masak, rasanya amburadul ga karuan. Kebayang muka yang makan kayak apa kalau makan masakan yang rasanya amburadul itu.

Di sisi lain sebenarnya memasak sendiri itu biaya-nya lebih murah dibandingkan kalau kita makan di luar. Ditambah sekarang lagi trend  gaya hidup sehat dengan membawa bekal makanan dari rumah. Itu berarti makan masakan dari rumah dan jelas harus ada orang yang bersedia memasak masakan itu di rumah.


Terus terang saja, sejak menikah saya “memaksa” diri saya sendiri untuk belajar memasak. Sejak kecil saya jarang banget bantu Ibu memasak di dapur. Saya tahunya makanan sudah terhidang di meja dan saya tinggal makan saja. Ga pernah terbersit dalam pikiran saya untuk belajar masak. Sampai pada saat Ibu meninggal dunia, peran memasak di keluarga saya berpindah ke tangan kakak saya yang pertama. Saya tetep ga punya niat belajar memasak. Alasannya klise. Males.

Jumat, 28 Juli 2017

saya dan sahabat

Saya baru merasakan bahwa setelah menjadi istri dan Ibu, urusan perempuan menjadi segambreng banyaknya. Rutinitas mengurus rumah dan anak-anak terkadang menyeret kita ke pusaran waktu yang tidak mengenal dunia lain selain rumah dan anak-anak. Ketika harus beraktivitas keluar rumah entah ke kantor atau urusan lain, yang kepikir juga rumah. Kepikir apakah anak-anak baik-baik saja dengan si mbak asisten? Nanti sebelum pulang mau mampir belanja sayuran apa, nanti malam menu makannya apa, eh tiba-tiba keingat kalau ternyata sorenya ada arisan kompleks. Padahal badan lagi berasa ga enak dan rasanya sampai rumah pengen tidur. Hadew riwueh dewh. Pernah ga ngalamin seperti itu?

Selasa, 04 Juli 2017

Hidangan Khas Lebaran: Tape Ketan dan Emping Melinjo

Di Yogyakarta ada makanan khas yang hadir pada setiap lebaran. Namanya tape ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dimakan bersama emping melinjo. Saat ini tidak semua keluarga menyajikan makanan tradisional ini. Sewaktu saya kecil, hampir semua rumah di desa pasti menyajikan tape ketan dan emping melinjo sebagai makanan spesial. Berhubung saya tinggal di perumahan, jadi saya menanti-nanti saat Bapak mengajak ujung (silaturahmi) ke tempat saudara-saudaranya di daerah Sleman supaya dapat makan tape ketan dan emping melinjo. Rasa asam manis tape ketan dan rasa pahit emping melinjo berpadu sempurna di lidah saya. Emping melinjo ini berfungsi sebagai sendok untuk makan tape ketan berbungkus daun pisang ini. Tidak cukup satu bungkus tape ketan untuk memuaskan lidah saya.
 Waktu itu, hampir semua rumah menyajikan tape ketan dan emping melinjo, sehingga saya bisa membandingkan rasa tape ketan di rumah yang satu dengan rumah yang lain. Ada tape ketan yang sempurna dalam artian warnanya putih cantik, pulen, tidak berlendir dan rasa asam manisnya sangat pas. Namun ada beberapa tape ketan yang tidak sempurna seperti ketannya nglethis (tidak pulen dan masih berasa seperti beras), warnanya agak merah, terlalu asam dan kurang manis, serta mudah berlendir.

Rabu, 14 Juni 2017

“Say No Tekor” untuk Pengeluaran Lebaran


Sudah menjadi sesuatu yang “wajar” kalau kita sebagai muslim sebagian besar mempunyai pengeluaran yang lebih besar dibanding bulan-bulan yang lain. Terkadang malah over budget. Huhu...ngeri disamping kebutuhan kita bertambah ditambah harga beberapa kebutuhan pokok yang mulai merangkak naik. Yang pusing tuh manajer keuangan keluarga karena musti njembreng duit biar cukup.

Sebenarnya pengeluaran di bulan Ramadhan bisa diprediksi sebelumnya. Biar ga tekor atau over budget, pengeluaran selama ramadhan dan lebaran musti direncanain juga lho. Tahun-tahun lalu, saya tidak begitu peduli dengan pengeluaran yang meroket itu. Biasanya jumlah pengeluaran bisa dua kali lipat pengeluaran bulanan rutin. Bahkan lebih, hehe... Saya mengandalkan tambahan uang dari suami dan saya yang biasa diberikan oleh kantor menjelang lebaran untuk menutup jumlah pengeluaran yang meroket itu. Orang bilang THR atau apalah istilahnya tapi yang jelas tambahan uang itu kami terima menjelang lebaran.

Jumat, 26 Mei 2017

Mengelola Uang Belanja biar Ga tekor


Urusan dapur supaya tetap mengepul sedikit banyak ada di tangan perempuan. Intinya masalah logistik keluarga di sebagian besar keluarga ada di tangan perempuan. Betul ga? Walau ga dipungkiri juga di beberapa keluarga, urusan ini dipegang oleh para suami.

Logistik makan adalah kebutuhan pokok kita, jadi mau tidak mau harus terpenuhi. Tanpa kita sadari, kebutuhan ini mengambil porsi yang cukup besar dalam pembiayaan rumah tangga. Sebagai perempuan yang memegang peran besar dalam urusan logistik, kita kudu jeli dan cermat dalam mengelola uang belanja.

Saya memakai prinsip 50-30-20 dalam melakukan pengelolaan keuangan keluarga. Pada bagian logistik yang termasuk kebutuhan pokok mendapat jatah 50% dari total penghasilan kami sebulan. Nah kebutuhan pokok kan ga cuma makan, ada kebutuhan lain yang perlu dibiayai. Jadi alokasi 50% itu musti dibagi-bagi lagi.


Di postingan ini, saya pengen cerita tentang mengelola uang belanja ala saya. 

Sabtu, 13 Mei 2017

Merencanakan Keuangan Keluarga

Tidak saya sangka sebelumnya bahwa ketika saya memutuskan untukmenerima lamaran mas suami dan menikah, saat itu juga saya “dilantik” jadi manajer keuangan keluarga. Keren ya? Tapi  dipercaya mas suami untuk mengelola dan mengatur keuangan keluarga kecil kami tanpa pengetahuan tentang keuangan sebelumnya adalah sebuah tantangan besar bagi saya. Dulunya sebelum nikah, saya rasanya bebas saja menggunakan uang gaji bulanan saya sesuai keinginan saya. Kalau dalam sebulan uang gaji habisa tak bersisa, biasa saja karena waktu itu saya belum punya planning keuangan terhadap hidup saya. Maklum masih single jadi rasanya masih free tanpa ikatan hehe..

Aih, ternyata ketika mas suami menyerahkan gaji bulanannya dan meletakkan tanggungjawab mengelola uang, bikin saya shock juga. Uang segini banyaknya harus bisa dialokasikan ke pos-pos kebutuhan kami berdua dan terkadang kebutuhan keluarga besar kami.

Selasa, 10 Januari 2017

Ibu Rumah Tangga yang nyambi jadi Mahasiswa

 “Ibu, mbok Ibu ga usah kerja aja. Jadi Ibu di rumah kayak ibunya Yahya. Jadi aku bisa dibikinin penganan macem-macem di rumah,” pinta kakak Ikhsan yang polos kepada saya karena membandingkan kondisi Ibunya dan Ibu tetangga yang anaknya sebaya kakak Ikhsan.

Huhu... memang jadi dilema bagi sebagian perempuan bekerja seperti saya. Seperti berada di persimpangan antara kantor dan rumah. Saya pernah berpikir untuk resign trus jadi stay at home mom, tapi pikiran itu langsung ditolak oleh mas suami. Selain karena saya adalah seorang ASN (aparatur sipil negara, yang tidak mudah mengajukan pensiun dini), menurut perkiraan mas suami saya bakalan mencapai titik jenuh dan merasakan kebosanan kalau jadi stay at home mom, apalagi kalau besok anak-anak semakin besar dan saya tidak punya kesibukan yang berarti. Mas suami juga ingin saya mempunyai aktivitas bekerja untuk mendukung eksistensi saya sebagai perempuan.

 “Kesibukan di kantor dan waktu masih bisa disiati untuk ngurus rumah. Dan rumah tetap jadi prioritas utama,” begitu kata mas suami. Saya manggut-mangut diberi wejangan kayak gitu. Sebagai istri saya nurut sama mas suami ;)

Kamis, 22 Desember 2016

selamat hari Ibu

Setiap orang pasti punya kenangan tentang Ibu. Ada juga yang mengidolakan Ibu-nya dan pengen seperti Ibu-nya setelah berkeluarga kelak. Ibu memang orang pertama yang kita kenal di dunia. Bukankah  dari air susunya kita dapat bertahan hidup dunia? cara Ibu mengajarkan kita tentang kehidupan juga berbeda-beda. Begitu juga dengan Ibu saya.

Setelah saya menjadi Ibu, saya baru tahu alasan mengapa dulu alm. Ibu sangat-sangat cerewet mengatur anak-anak dan keluarga. Ibu saya adalah perempuan bekerja yang multi tasking. Jaman saya kecil, Ibu selalu memasak sendiri untuk keluarga dan menyediakan aneka cemilan sebelum berangkat ke kantor. Pokoknya Ibu memastikan di rumah tersedia makanan untuk anak-anak baru beliau berangkat kantor.

Jumat, 28 Oktober 2016

perempuan dan me time



Saya menyadari sebagai seorang perempuan dan juga ibu saya harus bisa menjadi perempuan yang multitasking. Ada banyak tanggungjawab yang tersampir di pundak saya. Tanggung jawab sebagai istri, sebagai ibu, sebagai pekerja, juga sebagai anak yang harus mengurus eyang (bapak saya). Kayaknya banyak dewh yang harus dikerjakan dalam sehari. 

Aktivitas dan tanggungjawab yang banyak itu terkadang bikin stres juga lho. Misalnya saja urusan sepele seperti menyiapkan menu makanan harian untuk orang rumah. Saya kadang mentok ga dapat ide mau menyajikan apa di meja makan untuk sarapan. Untuk urusan masak memasak saya bisa tapi ga jago, hanya standar bisa dimakan hehe.

Kamis, 29 September 2016

Mengenal Megacolon Konginetal (Hirzprung Disease)

Saya bahagia sekali ketika mendengar kabar keponakan saya yang berprofesi sebagai bidan melahirkan anak keduanya dengan normal dan selamat. Saya dapat status baru yaitu “eyang” karena menurut adat Jawa, secara garis keturunan anak dari keponakan saya adalah cucu dari kakak saya sehingga bayi itu juga dianggap cucu saya.

Satu hari setelah mendengar kabar kelahirannya, saya langsung meluncur ke rumah sakit untuk menengok. Pengen buru-buru melihat cucu baru. Cucu saya ini terlahir laki-laki dengan berat badan kurang lebih 3 kg, lahir secara spontan. Ibu dan bayi sehat semua. Melihat bayi, tangan saya gatal ingin menggendong dan ketika saya gendong keponakan saya menyeletuk,
“Wah, bulik (tante) masih wangun (=pantas) punya bayi lagi lho..”
“Masa sih?” tanya saya sambil mengayun-ayun si kecil Fadli yang menatap saya dengan pandangan lucu.
menggendong Fadli yang berumur 1 hari

Selasa, 20 September 2016

Perpustakaan yang cozy

Sudah lama banget saya pengen singgah di perpustakaan daerah Jogja yang bernama Grhatama Pustaka. Dari jauh gedungnya terliat bagus dan keren, jadi bikin penasaran aja buat masuk. Biasanya kalau denger kata perpustakaan, yang ada dalam pikiran kita adalah gedung yang "kaku" dan rak yang penuh buku trus jadi bikin males masuk. Beda banget kalau disuruh masuk toko buku.

Minggu kemarin, saya dan Ikhsan menyempatkan diri masuk ke Grhatama Pustaka yang lokasinya dekat dengan Jogja Expo Center. Yuk mari kita lihat-lihat ke dalam..

Gedung Grhatama Pustaka tampak dari depan

Senin, 29 Agustus 2016

pacaran sama suami

Setelah menikah dan punya anak, meluangkan waktu untuk sekedar nge-date berdua sama mas memang jadi sesuatu yang ga gampang dilakukan. Rasanya rada gimana gitu, meninggalkan anak-anak di rumah trus kita malah makan atau jalan berdua. Rada ada perasaan "bersalah" kepada anak-anak.

Saya menyadari banget bahwa saya dan mas butuh waktu berdua saja untuk saling ngobrol atau sharing perasaan kita. Ya...kayak jaman-jaman sebelum nikah dulu, istilahnya pacaran. Yes,we need it.
Kami notabene hanya punya waktu bersama setelah pulang kantor, dengan catatan mas tidak sedang tugas luar kota. Waktu sepulang kantor itu pun harus kami bagi dengan ikhsan-ikhfan. Alhasil kadang dalam sehari kami ga sempat ngobrol berdua. Apalagi kalau mas ada tugas luar kota sampai berhari-hari, dan waktu total waktu di rumah hanya tersisa 5 hari saja dalam sebulan.
gambar diambil dari https://destiniplestari.wordpress.com
Dan gini nih, pacaran dengan suami ala saya...

Minggu, 14 Agustus 2016

11 tahun

Mendapat sms yang puitis di tengah malam buta memang akhirnya membuat saya melayang. Ini nukilan isi sms yang saya terima:
"14 Agustus 2005:
Saat dua hati menyatu, tuk arungi hidup di jalan-Nya
Allah kan berkahi mereka
Kala dalam doa, kala dalam asa
Menjadilah mentari bening pagi
yang terangi bumi, terangi hati
Menjadilah keheningan malam
Kala berjuta insan larut dalam doa"

#happy anniversary sayang..."

Jumat, 15 Juli 2016

Saya dan Kamera Ponsel

Hari gini siapa sih yang ga pengen eksis dan narsis di dumay? kayaknya orang dari berbagai kalangan dan beragam usia pengen eksis di semua jenis medsos. Saya tanpa malu akhirnya ikutan mengajungkan ibu jari untuk mengakui bahwa saya juga terbawa pusaran arus "eksis dan narsis di dumay".

Awal saya mulai belajar ngeblog tahun 2007 yang lalu, untuk urusan posting poto, saya mengandalkan kamera digital dengan megapixel dibawah 8. Sebenarnya hasilnya ga maksimal, tapi karena waktu itu belum banyak tandingan foto-foto diatas 8 megapixel, jadi saya pede abis meng-upload foto

Dulu objek jepretan saya dengan kamera digital adalah ikhsan -anak pertama saya-. Kamera yang ukurannya kecil itu selalu siaga di dekat saya, untuk saya pake setiap melihat tingkah ikhsan yang saya anggap lucu dan layak untuk diabadikan. Pokoknya setiap tingkah ikhsan saya jepret. Trus hasilnya dipilih-pilih dan dijadikan bahan postingan di blog.
Kadang hasilnya ngeblur, tapi berhubung caption-nya saya suka, ya tetep aja saya posting hehe... ini dia salah satu foto yang nekad saya upload di blog tanggal 31 maret 2008.

nge-blur, tapi karena caption-nya ikhsan lagi belajar berdiri ya tetep di upload ;)

Jumat, 22 April 2016

Menjadi Manajer Rumah Tangga


Saya dibesarkan oleh orang tua yang sangat peduli tentang pentingnya pendidikan bagi anak. Ibu adalah orang pertama yang selalu mendorong saya untuk memperoleh pendidikan yang baik. Saya selalu ingat kata-kata motivasi Ibu kepada saya,”Jadi anak perempuan harus sekolah yang baik. Kamu harus kuliah di universitas negeri karena ibu tidak punya cukup uang untuk membayar kuliah di universitas swasta. Perempuan harus punya penghasilan sendiri, supaya posisi kamu ketika berumah tangga tidak dipandang rendah oleh suami dan keluarganya. Kalau kamu punya penghasilan sendiri, kamu bisa berbagi penghasilan dengan suamimu.”


Ibu memang bekerja sebagai pegawai negeri di instansi pemerintah. Ibu adalah perempuan yang kuat yang pernah saya kenal. Sejak saya kecil, saya jarang atau hampir tidak pernah mendengar ibu mengeluh masalah keuangan ataupun kerepotannya mengurus 4 orang anak dengan jarak usia 2 tahun, yang terpaksa tidak punya pembantu sejak adik bungsu saya berusia 4 tahun. Ibu tetap bisa membagi waktu antara pekerjaan di kantor dengan mengurus rumah. Ibu juga masih sempat mengajari kami mengerjakan PR atau menemani mengulang pelajaran di sekolah.

Di keluarga kami, Ibu adalah orang yang pertama bangun pagi dan tidur paling akhir. Menyiapkan sarapan dan menyediakan lauk untuk siang sampai malam untuk kami dilakukan pagi sebelum Ibu berangkat kantor. Bahkan di malam hari, Ibu masih sibuk membuat lauk yang tahan sampai beberapa hari, seperti srundeng kelapa, kering tempe atau peyek kacang, untuk persediaan lauk.


Ketika saya mulai masuk SMP, Ibu beberapa kali mengalami pendarahan dan harus opname di RS. Kami, anak-anaknya tidak tahu persis sakit yang diderita Ibu karena Bapak dan Ibu tidak pernah memberitahu kami. Kami cuma diberitahu kalau Ibu butuh istirahat sebentar dan besok akan pulih lagi. Yah, kami juga tidak banyak bertanya karena pada kenyataannya setelah Ibu pulang dari RS, Ibu tetap melakukan aktivitas seperti biasa- mengurusi rumah- seolah tidak pernah sakit. Ibu tidak mengeluh sama sekali. Ibu adalah wanita yang paling kuat menahan rasa sakit di tubuhnya.