Rabu, 14 Juni 2017

“Say No Tekor” untuk Pengeluaran Lebaran


Sudah menjadi sesuatu yang “wajar” kalau kita sebagai muslim sebagian besar mempunyai pengeluaran yang lebih besar dibanding bulan-bulan yang lain. Terkadang malah over budget. Huhu...ngeri disamping kebutuhan kita bertambah ditambah harga beberapa kebutuhan pokok yang mulai merangkak naik. Yang pusing tuh manajer keuangan keluarga karena musti njembreng duit biar cukup.

Sebenarnya pengeluaran di bulan Ramadhan bisa diprediksi sebelumnya. Biar ga tekor atau over budget, pengeluaran selama ramadhan dan lebaran musti direncanain juga lho. Tahun-tahun lalu, saya tidak begitu peduli dengan pengeluaran yang meroket itu. Biasanya jumlah pengeluaran bisa dua kali lipat pengeluaran bulanan rutin. Bahkan lebih, hehe... Saya mengandalkan tambahan uang dari suami dan saya yang biasa diberikan oleh kantor menjelang lebaran untuk menutup jumlah pengeluaran yang meroket itu. Orang bilang THR atau apalah istilahnya tapi yang jelas tambahan uang itu kami terima menjelang lebaran.

Jumat, 26 Mei 2017

Mengelola Uang Belanja biar Ga tekor


Urusan dapur supaya tetap mengepul sedikit banyak ada di tangan perempuan. Intinya masalah logistik keluarga di sebagian besar keluarga ada di tangan perempuan. Betul ga? Walau ga dipungkiri juga di beberapa keluarga, urusan ini dipegang oleh para suami.

Logistik makan adalah kebutuhan pokok kita, jadi mau tidak mau harus terpenuhi. Tanpa kita sadari, kebutuhan ini mengambil porsi yang cukup besar dalam pembiayaan rumah tangga. Sebagai perempuan yang memegang peran besar dalam urusan logistik, kita kudu jeli dan cermat dalam mengelola uang belanja.

Saya memakai prinsip 50-30-20 dalam melakukan pengelolaan keuangan keluarga. Pada bagian logistik yang termasuk kebutuhan pokok mendapat jatah 50% dari total penghasilan kami sebulan. Nah kebutuhan pokok kan ga cuma makan, ada kebutuhan lain yang perlu dibiayai. Jadi alokasi 50% itu musti dibagi-bagi lagi.


Di postingan ini, saya pengen cerita tentang mengelola uang belanja ala saya. 

Sabtu, 13 Mei 2017

Merencanakan Keuangan Keluarga

Tidak saya sangka sebelumnya bahwa ketika saya memutuskan untukmenerima lamaran mas suami dan menikah, saat itu juga saya “dilantik” jadi manajer keuangan keluarga. Keren ya? Tapi  dipercaya mas suami untuk mengelola dan mengatur keuangan keluarga kecil kami tanpa pengetahuan tentang keuangan sebelumnya adalah sebuah tantangan besar bagi saya. Dulunya sebelum nikah, saya rasanya bebas saja menggunakan uang gaji bulanan saya sesuai keinginan saya. Kalau dalam sebulan uang gaji habisa tak bersisa, biasa saja karena waktu itu saya belum punya planning keuangan terhadap hidup saya. Maklum masih single jadi rasanya masih free tanpa ikatan hehe..

Aih, ternyata ketika mas suami menyerahkan gaji bulanannya dan meletakkan tanggungjawab mengelola uang, bikin saya shock juga. Uang segini banyaknya harus bisa dialokasikan ke pos-pos kebutuhan kami berdua dan terkadang kebutuhan keluarga besar kami.

Selasa, 09 Mei 2017

Family trip: Batavia-Ancol

Hari kedua, anak-anak langsung bangun pagi dan semangat untuk pergi ke Ancol. Jam 7 pagi mereka sudah mandi dan siap untuk sarapan. Baiklah, mari kita mulai hari ini dengan semangat anak-anak...
Selesai sarapan, mas suami order go car dan tak berapa lama pun kami meluncur menuju Ancol. Hanya 15an menit kami sudah masuk gerbang Ancol. Tujuan pertama kami adalah Sea world. Walau belum ada jam 9, ternyata pengunjungnya sudah banyak.
 
Cerita perjalanan hari pertama ada di sini

Dengan tiket seharga 110 ribu per orang kami masuk Sea World. Ketika masuk, tangan kami dicap oleh petugas supaya nanti bisa keluar-masuk Sea World secara bebas dalam hari itu dengan sekali beli tiket. Begitu masuk kami langsung disambut oleh suasana redup-temaram dan aneka aquarium dengan bermacam-macam jenis ikan laut.

Senin, 01 Mei 2017

family trip : ke Batavia

Di era sekarang ketika rutinitas hidup melahirkan kejenuhan, tidak dipungkiri lagi bahwa acara refreshing bareng keluarga atau orang-orang terdekat merupakan momen yang ditunggu. Saya sendiri juga heran, mengapa sekarang rasa jenuh dan bosan gampang banget datang setelah terjebak rutinitas dan tekanan pekerjaan. Jalan bareng suami dan anak-anak ke tempat wisata bareng ternyata membuat hati sejenak refresh dari kejenuhan. So kayaknya kebutuhan akan liburan atau apalah namanya adalah suatu kebutuhan. Ya walaupun termasuk kebutuhan tersier, kalau bisa dipenuhi rasanya pua..aas banget. Tidak mengherankan ketika ada tanggal merah dan jatuh di hari jumat atau senin, jalanan menuju tempat wisata bakal macet dipenuhi wisatawan. 

Nah, long weekend tanggal 22-24 April kemarin, saya , mas suami dan ikhsan-ikhfan jalan-jalan ke Jakarta.  Kok ke Jakarta? Ga ke  daerah wisata alam aja? 

Jumat, 21 April 2017

Mengikuti Jejak Kartini


Bulan April memang afdol banget kalau ngomong tentang perempuan. Ya momentumnya pas karena tanggal 21 April itu hari lahirnya Ibu Kartini. Semangat Kartini sebagai perempuan yang mempunyai keinginan untuk menuntut ilmu masih terus menggelora hingga kini.

Saya sendiri memaknai pemikiran Kartini itu sebagai hak asasi bagi perempuan untuk menjadi cerdas. Apakah perempuan perlu menuntut ilmu? Kartini dulu sangat mengharap mendapat kesempatan untuk sekolah dan sangat kecewa ketika tawaran beasiswa ke Belanda dan Batavia urung diambil. Pemikiran Kartini untuk mencerdaskan dirinya yang notabene perempuan di jaman dulu memang penuh dengan tentangan adat jawa yang menabukan perempuan terlalu banyak berkiprah di luar rumah. Hingga kini urusan kesempatan perempuan untuk sekolah atau menuntut ilmu tidak sepenuhnya mulus. Adakalanya memang urusan sekolah menjadi terhambat karena alasan klise biaya atau bahkan tidak adanya keinginan perempuan itu sendiri untuk sekolah. Dari pengalaman saya, dari 4 ART saya yang dua lulusan SD dan dua lulusan SMP. Alasan tidak melanjutkan sekolah dan memilih bekerja adalah soal biaya (ini alasan ART yang luluusan SMP) sedangkan ART saya yang lulusan SD beralasan sudah tidak mau berpikir lagi. Sudah males sekolah karena kalau sekolah kan mikir jadi tidak mau dan budaya masyarakat di daerah asal mereka, para perempuan hanya lulus SD saja karena toh nanti pada akhirnya mereka akan menikah dan “hanya” akan mengurus anak dan dapur saja, jadi tidak perlu sekolah yang tinggi. Cukup bisa membaca dan menulis saja.
Hadew..,saya jadi miris dan tidak bisa komentar banyak tentang itu.

Selasa, 21 Maret 2017

With or without ART??

Waa...judul postingan kali ini bener-bener mencerminkan kegalauan dalam hati saya. Yup, pasalnya sejak akhir Desember 2016 lalu, asisten rumah saya resign tanpa alasan yang jelas.  Si mbak ini sudah 4 tahun ikut saya. Pokoknya seumurannya adik Ikhfan. Kakak Ikhsan dan adik Ikhfan sudah kadung cucok dan menganggap kayak saudara sendiri. 

Gonta-ganti asisten rumah tangga sudah saya alami sejak saya hamil dan punya anak. Saya sudah tujuh kali ganti asisten dan si mbak ini adalah yang paling lama. Asisten saya yang lainnya paling lama bertahan 3 tahun. Rekor paling pendek adalah 24 jam, si mbak datang sore dan subuh sudah kabur tanpa pesan dan tidak mau balik lagi 

Sempat terbersit pikiran di kepala saya, sebenarnya saya butuh asisten atau tidak sih? Rata-rata teman saya yang sudah punya anak, pada punya asisten di rumah. Maklum kami adalah perempuan bekerja yang punya aktivitas di luar rumah dan terkadang harus tugas keluar kota beberapa hari. Tidak mungkin meninggalkan anak-anak tanpa asisten di rumah.  Tapi ada juga sih temen kantor yang bertahan tanpa asisten, dengan catatan anaknya semua masuk daycare sampai jam pulang kantor.