Senin, 23 Mei 2016

ikhfan dan tanda-tanda serangan asma

Beberapa waktu yang lalu saya sempat posting cerita tentang asma yang diderita ikhfan (3,5 th) disini. Sekarang saya pengen ngelanjutin cerita seputar asma pada ikhfan.
Asma sebagian besar disebabkan karena faktor keturunan dari orang tua. Pemicunya bisa karena alergi terhadap makanan atau hal lain.  Pada Ikhfan, sampai sekarang yang saya duga sebagai pemicu serangan asmanya adalah virus flu. Jadi kalau ada orang yang lagi flu di sekitar ikhfan pasti dalam hitungan hari Ikhfan akan tertular. Kalau di rumah ada yang flu entah itu mas, kak ikhsan, eyang atau asisten, saya pasti akan langsung beli masker dan "memaksa" yang sakit flu untuk pake masker.
Rasanya parno banget kalau itu virus lari-lari dan masuk ke tubuh Ikhfan.

Jumat, 22 April 2016

Menjadi Manajer Rumah Tangga


Saya dibesarkan oleh orang tua yang sangat peduli tentang pentingnya pendidikan bagi anak. Ibu adalah orang pertama yang selalu mendorong saya untuk memperoleh pendidikan yang baik. Saya selalu ingat kata-kata motivasi Ibu kepada saya,”Jadi anak perempuan harus sekolah yang baik. Kamu harus kuliah di universitas negeri karena ibu tidak punya cukup uang untuk membayar kuliah di universitas swasta. Perempuan harus punya penghasilan sendiri, supaya posisi kamu ketika berumah tangga tidak dipandang rendah oleh suami dan keluarganya. Kalau kamu punya penghasilan sendiri, kamu bisa berbagi penghasilan dengan suamimu.”


Ibu memang bekerja sebagai pegawai negeri di instansi pemerintah. Ibu adalah perempuan yang kuat yang pernah saya kenal. Sejak saya kecil, saya jarang atau hampir tidak pernah mendengar ibu mengeluh masalah keuangan ataupun kerepotannya mengurus 4 orang anak dengan jarak usia 2 tahun, yang terpaksa tidak punya pembantu sejak adik bungsu saya berusia 4 tahun. Ibu tetap bisa membagi waktu antara pekerjaan di kantor dengan mengurus rumah. Ibu juga masih sempat mengajari kami mengerjakan PR atau menemani mengulang pelajaran di sekolah.

Di keluarga kami, Ibu adalah orang yang pertama bangun pagi dan tidur paling akhir. Menyiapkan sarapan dan menyediakan lauk untuk siang sampai malam untuk kami dilakukan pagi sebelum Ibu berangkat kantor. Bahkan di malam hari, Ibu masih sibuk membuat lauk yang tahan sampai beberapa hari, seperti srundeng kelapa, kering tempe atau peyek kacang, untuk persediaan lauk.


Ketika saya mulai masuk SMP, Ibu beberapa kali mengalami pendarahan dan harus opname di RS. Kami, anak-anaknya tidak tahu persis sakit yang diderita Ibu karena Bapak dan Ibu tidak pernah memberitahu kami. Kami cuma diberitahu kalau Ibu butuh istirahat sebentar dan besok akan pulih lagi. Yah, kami juga tidak banyak bertanya karena pada kenyataannya setelah Ibu pulang dari RS, Ibu tetap melakukan aktivitas seperti biasa- mengurusi rumah- seolah tidak pernah sakit. Ibu tidak mengeluh sama sekali. Ibu adalah wanita yang paling kuat menahan rasa sakit di tubuhnya.

Jumat, 08 April 2016

ngedate bareng ikhsan-ikhfan

Kalau liat anak cewek lewat di depan saya rasanya penge..een juga punya anak cewek. Membayangkan lucu kalau didandanin macam-macam dan kalau dah agak gedean bisa diajak jalan bareng. Hehe..., itu di angan-angan. Tapi anugerah Allah memang sama nikmatnya. Punya dua anak laki-laki ternyata "klik" ajah saya ajak jalan atau ngedate.
Beberapa kali saya memang jalan hanya dengan ikhsan-ikhfan minus bapaknya karena seringnya di waktu weekend mas sedang tugas keluar kota, jadi di rumah hanya ada kami bertiga.
Kalau udah hari sabtu, emang bawaannya gatel pengen jalan-jalan. Apalagi si kakak ikhsan, baru jumat malem saja sudah ribut ngerancang besok sabtu-minggu mau jalan-jalan kemana?

Saya sih seneng-seneng aja :). Apalagi adek ikhfan dah agak gedean jadi dah ga terlalu repot diajak jalan-jalan tanpa asisten.
Tujuan jalan-jalan saya sama anak-anak, memang ga jauh-jauh dari rumah, masih area jogja dan mencoba berbagi moda transportasi yang ada. Kadang saya ajak ikhsan ikhfan naek bus transjogja, becak, taksi, mobil sendiri dan kadang juga naek motor bertiga. Tergantung kita mau kemana. Biasanya saya bikin kesepakatan sama kakak ikhsan, kita mau jalan kemana dan mau naek apa. Jadi konsekuensinya dari "deal" itu harus ditanggung bersama. Kalau adik ikhfan sih ngikut aja.

Acara ngedate bertiga bareng anak-anak, bener-bener saya rasakan manfaatnya. Kami jadi lebih kompak dan anak-anak ternyata kalau dihadapkan pada situasi yang "memaksa" mereka harus mandiri dalam artian melakukan kebutuhan mereka sendiri ternyata mereka mampu. Beberapa kali adik ikhfan bersedia makan  sendiri di restoran dan kakak ikhsan juga mau diminta membantu membawa barang-barang kebutuhan adiknya plus jagain adiknya kalau saya lagi repot mbayar ini-itu di tempat tujuan jalan-jalan.
Ternyata anak-anak kalau diberi kepercayaan, mereka senang karena mereka dianggap "ada" dan merasa dibutuhkan. Saya pun merasa senang karena dengan mengajak mereka ngedate, ternyata ikhsan-ikhfan sudah mulai bisa belajar memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Jadi, bagi saya ngajak jalan anak-anak tanpa asisten memang perlu, untuk memberi keseimbangan psikologis bagi mereka karena kalau di rumah masih banyak kebutuhan mereka yang selalu "terlayani" oleh saya atau asisten saya di rumah. Selain itu saya bisa lebih dekat dengan mereka karena jumlah waktu yang saya habiskan di rumah untuk bekerja terkadang menyita waktu saya bersama mereka.

Kamis, 17 Maret 2016

ikhfan dan asma



Ikhfan lahir pada tanggal 20 juli 2012 dengan berat badan 3,4 kg dan sehat. Sejak ikhfan lahir, saya berniat memberinya ASI eksklusif. Alkhamdulillah dengan ASI eksklusif, berat badannya bertambah dengan cepat. Tidak ada keluhan kesehatan berarti sampai ikhfan berusia sekitar 10 bulan. Waktu itu,  ikhfan terserang batuk, mungkin tertular kakak ikhsan yang sedang flu. Saya kira itu hanya flu biasa, jadi saya tidak memberi obat. Saya hanya memperbanyak pemberian ASI dengan harapan batuknya agak mereda. Itu adalah pertama kali ikhfan terserang flu.

Walau ASI yang saya berikan lebih banyak dari biasanya ternyata batuknya bertambah parah. Di malam hari batuknya semakin menjadi dan ikhfan jadi semakin rewel. Nafas ikhfan jadi pendek-pendek dan berbunyi. Hanya bisa tidur dengan digendong dan tidak bisa ditidurkan telentang.
Saya mulai tidak tenang dan curiga batuk ikhfan bukan sekedar batuk flu biasa. Saya dan mas memutuskan besok pagi membawa ikhfan ke dokter spesialis anak.

Keesokan harinya ketika dokter memeriksa dada ikhfan dengan stetoskop langsung mendiagnosa ikhfan terserang asma dan kejadian tadi malam ketika nafasnya pendek-pendek seperti tersengal-sengal itu adalah serangan asma. Saya sempat diingatkan dokter kalau tadi malam sebenarnya kondisi yang “rada gawat” untuk ikhfan jika tidak segera diberi pertolongan nebulizer karena serangan asma pada bayi bisa berakibat gagal nafas. Tapi beruntung ikhfan kuat bertahan.
Poong...rasanya saya seperti ditampar dengan pernyataan dokter. Jujur waktu itu saya tidak punya informasi dan pengetahuan tentang serangan asma pada bayi.

Selasa, 01 Maret 2016

cerita di sepenggal siang


Duduk di bawah pohon rimbun di gedung pusat kampus sambil menikmati angin yang bertiup nakal bersama Abi adalah saat-saat kunanti. Sesekali kulihat sudut mata  Abi mengerling menatapku tetapi buru-buru dibuangnya jauh.

 “Akan seperti apakah kita 10 tahun lagi Er? Masihkah kita bisa memandang langit yang sama ditemani buaian angin yang nakal ini?” Mata Abi menerawang jauh.

Aku hanya terpekur diam.

“Entahlah, semoga saja langit akan tetap di sana untuk kita 10 tahun lagi,” jawabku sekenanya.

“Er...,” panggil Abi.

Aku menoleh dan menunggu kalimat selanjutnya. Yang kudapat hanya diam. Aku tetap menunggu. Lima menit berlalu, perkataan Abi terhenti. Abi selalu seperti ini, selalu ada yang ingin diungkapkan tetapi batal diucapkan.

“Bi..., tadi mau bilang apa?” akhirnya aku tidak tahan untuk bertanya.

“hmm... ,” Abi masih bimbang. “kamu akan tetep jadi tempat aku berbagi kan?”

Aku terdiam tapi mengangguk mantap. “Pasti, Bi..”

Angin mulai bertiup nakal lagi mempermainkan ujung poniku sementara Abi memandang daun-daun kering yang ikut diterbangkan angin.

“Er, lihatlah daun-daun itu. Mereka berkejaran ditiup angin. Pergi menurutkan angin menyuruh mereka pergi. Awalnya mereka bersama namun ketika angin datang, mereka terpisah. Mungkin nanti saat angin menginginkan mereka bertemu, mereka akan bertemu juga. Walau mereka tetap ingin bersama namun nasib membawa mereka ke tempat yang berbeda. Mereka berpisah tanpa ada kesedihan.” Abi terdiam lagi.

“Er, mungkinkah kita seperti mereka?”

Kamis, 25 Februari 2016

anak batita, dimasukin sekolah atau enggak?



Ketika menginjak umur 3 tahun, ikhfan saya masukkan ke playgroup. Sejak itu dia sering jadi “pusat perhatian” guru-gurunya di sekolah karena setiap kali ditanyai ikhfan selalu menjawab dan akhirnya bercerita versi anak-anak yang bikin guru-gurunya senang bercampur geli.
Biasanya acara “menginterogasi” ikhfan direkam video dan  dikirim via WA ke saya. Saya kadang cerita juga sama teman kantor kalau saya dapat kiriman video rekaman ikhfan yang lagi cerita di sekolah. Teman kantor saya jadi heran kok gurunya ikhfan segitu perhatiannya sama ikhfan. Kok saya sering dapat kiriman video atau foto kegiatan ikhfan di sekolah dari gurunya sehingga saya tau progress ikhfan di sekolah.
Intinya dia heran kok saya bisa dapat banyak informasi tentang apa saja yang dilakukan ikhfan di sekolah. Guru-guru ikhfan juga selalu lapor kejadian di sekolah. Membandingkan dengan dia yang ga selalu dapat laporan dari guru anaknya.


Alasan saya memasukkan ikhfan ke playgroup tidak karena latah dengan lingkungan yang banyak menyekolahkan anak batita ke playgroup yang fullday atau halfday.
Ada juga yang komentar, “kok ikhfan disekolahin? udah ga ada yang momong di rumah ya?”
Saya jawab, saya punya asisten di rumah yang menginap dan menyekolahkan anak karena ga ada yang jagain di rumah bukan alasan saya. Memang di kantor saya, permasalahan klise ibu-ibu bekerja di kantor adalah urusan asisten di rumah untuk jagain anak. Kalau ga punya asisten maka pilihannya adalah memasukkan anak ke sekolah fullday.

Kamis, 21 Januari 2016

cerita khitanan-nya kakak ikhsan

Tanggal 29 desember 2015 kemaren menjadi "hari yang bersejarah bagi kakak ikhsan". Ya, di tanggal itu kakak ikhsan mantap untuk di khitan. Saya dan mas juga "memaksakan hati" untuk mantap. Karena saya, kalau ditanya kapan siap meng-khitan-kan ikhsan? hua...saya selalu ngambang njawabnya. Rasa hati ga tega ngeliat mr p****nya kakak ikhsan dikhitan. Takutnya juga ngerawatnya pasca khitan.
Membayangkan kakak bakal rewel. Huh, pokoknya ga tega.

Tapi ternyata ikhsan sudah memberi saya ultimatum, kalau pas liburan terima rapot kelas 3 semester 1, dia harus sudah khitan. Jadi masuk sekolah sedah khitan, titik. Usut diusut ternyata pak guru di sekolah menghimbau anak-anak putra untuk khitan pas libur sekolah tiba.

Saya dan mas belum menentukan tempat khitan buat ikhsan. Tetapi sudah pasti harus di rumah sakit dengan bantuan dokter bedah. Ga bisa di bong supit atau tempat sunat non RS. Latar belakangnya adalah karena sebenarnya saran untuk segera meng-khitan ikhsan sudah sejak ikhsan berumur 2 tahun. Dokter anak yang sering menangani ikhsan mendiagnosa ikhsan mengalami fimosis.
Fimosis ini adalah kondisi dimana kulup melekat pada kepala p**** dan menutup lubang p****. Akibatnya, urin tidak dapat keluar normal dan kepala p**** tidak dapat dibersihkan.
Fimosis bisa memicu timbulnya infeksi yang disebut balanitis atau infeksi di kepala p****. Fimosis juga bisa membuat anak kesakitan saat berkemih.
Pada ikhsan, sejak didiagnosa fimosis, ikhsan sering panas dan ketika berkemih p**** akan "melembung". Dokter menyarankan ikhsan untuk segera sirkumsisi/khitan dengan bius total karena usianya dibawah 9 tahun sehingga dianggap belum bisa kooperatif jika sirkumsisi dilakukan dengan bius lokal.

Saya dan mas rada ngeri kalau khitan dilakukan dengan bius total. Alasan ini kadang ga rasional bagi orang lain tapi kami tetep aja takut dan ngeri walau kami harus nanggung risiko ikhsan jadi sering panas karena terjadi infeksi. Maaf ya kak ikhsan...
(yang ini jangan ditiru ya.., karena sebaiknya memang anak yang terkena fimosis harus segera dikhitan supaya tidak sering terjadi infeksi).