Senin, 09 September 2024

refleksi hari lahir

 09.09.2024

Di pagi hari tanggal 9 September 2024, saya hampir saja tidak ingat kalau hari ini adalah hari lahir saya. Ketika terbangun dan mata terbuka yang teringat adalah urusan rutinitas menyiapkan anak-anak ke sekolah & mas suami yang bersiap mruput berangkat ke bandara. Kecupan lembut & bisikan lembut mas suami mengucapkan selamat ulang tahun, menyadarkan saya bahwa hari ini saya genap berusia 45 tahun.

ternyata tidak terasa waktu berjalan. Rasanya baru kemarin meniup lilin ultah yang ke-17 sekarang saya sudah berstatus istri dan ibu tiga orang anak laki-laki. Keadaan yang mungkin 20 tahun yang lalu belum terbayangkan. Hari ini mencoba merenung, hal-hal atau kejadian apa saja yang mampir di kehidupan saya. Bagaimana saya berhasil melewatinya. Ah, ternyata Allah sudah memberikan "ilmu kehidupan" kepada saya lewat aneka macam kejadian suka dan duka yang dihadirkan dalam kehidupan saya.

Ah, sepanjang usia ini, saya bersyukur diberi kesempatan untuk belajar menjadi perempuan yang bisa menjalankan peran sebagai istri dan Ibu. Setiap fase kehidupan adalah kelas kehidupan sebagai tempat saya belajar. Menjadi Ibu dari 3 anak laki-laki yang jarak rentang perbedaan usia yang jauh diantara ketiganya, "memaksa" saya belajar banyak untuk mengendalikan emosi. Belajar menjadi "teman dan sahabat" tempat sharing si kakak sulung yang remaja dan si kakak tengah yang sedang beranjak remaja, juga menjadi tempat yang paling aman dan nyaman untuk si bungsu yang masih TK untuk belajar menapaki milestone-nya.


di usia pernikahan yang sudah menginjak 19 tahun, saya masih terus berproses belajar menjadi istri dan sahabat bagi mas suami. Belajar menjadi tempat ternyaman dan paling dirindukan bagi mas suami untuk berbagi segalanya.

Alhamdulillah saya diijinkan Allah melakukan hal-hal yang menjadi passion/kesukaan saya. Salah satunya menulis. Allah mampukan saya menulis 12 buku antologi dan 1 buah buku solo. Saya juga masih diberi kesempatan juga untuk bekerja kantoran dan berbagi ilmu di kegiatan-kegiatan kantor.

Alhamdullillah  terimakasih ya Allah masih memberi saya waktu & usia untuk menjadi seseorang yang memberi manfaat, paling tidak di lingkar terdekat saya & keluarga.



Rabu, 01 Februari 2023

Menjadi Perempuan Pembelajar yang Merdeka atas Pilihannya

 

“Sekolah yang tinggi ya nak..minimal kamu harus kuliah dan bekerja..”

Masih terngiang nasehat almh ibu, saat saya masih berusia belasan tahun. Ibu adalah seorang pegawai pemerintah yang setiap hari harus pergi ke kantor. Saya melihat bagaimana Ibu mampu membagi waktu antara urusan kantor dan mengurus keempat anak tanpa pembantu. Pilihan Ibu untuk bekerja di luar rumah tentu membawa konsekuensi bagi beliau. Capek secara fisik sampai tidak mempunyai cukup waktu untuk diri sendiri mungkin dialami, tapi kok seingat saya beliau tidak pernah mengeluhkan pilihannya sebagi perempuan bekerja kantoran. Padahal jumlah waktu yang dimiliki untuk beristirahat sangat minim. Tapi beliau memberi contoh bagi saya bagaimana menjadi perempuan yang mampu menjalankan beberapa peran dengan baik dan keluarga tetap menjadi prioritas pertamannya.

Setiap perempuan yang menikah dan mempunyai anak pasti akan mendapat peran lebih dari satu yang harus dijalankan dengan segala konsekuensi dan tanggung jawabnya. Peran pertama sebagai istri dan selanjutnya sebagai ibu. Peran itu masih akan bertambah jika sang perempuan bekerja di luar rumah dan aktif berorganisasi. Jadi akan ada perempuan yang super sibuk dengan bejibun aktivitasnya dan ada pula perempuan yang sibuk sekedarnya.

Kalian pilih yang mana??

Kamis, 31 Maret 2022

Mengatur Pola Tidur pada Batita


Beberapa minggu ini saya sering sekali begadang atau tidur malam yang sangat larut. Jika ditotal mungkin saya hanya tidur 3-4 saja dalam sehari. Jangan ditanya bagaimana rasanya, yang jelas badan terasa tidak segar dan mengantuk saat bekerja di kantor. Dan efek yang bikin galau adalah jarum timbangan badan mulai bergerak ke kanan karena untuk menahan kantuk saya ngemil.

Acara begadang ini disponsori oleh bocah kecil di rumah kami yang berusia 3 tahun.

Irham- si raja kecil- di rumah kami sedang “kacau” pola tidurnya sejak saya berhasil menyapihnya di usia 2 tahun 8 bulan. Memutuskan untuk menyapih Irham sempat molor dari harapan saya yaitu menyapih di usia 2 tahun. Setelah berhasil disapih, Irham kehilangan rutinitas pengantar tidur malamnya yaitu menyusu. Kami (saya dan Irham) masih belajar bersama mencari rutinitas pengantar tidur yang nyaman bagi Irham.

Baca: http://www.berandarumahku.com/2021/01/tips-menyapih-dengan-cinta.html

Sejak disapih, Irham susah diajak tidur siang. Meski tidak tidur siang, Irham tidur di atas jam 9 malam. Saya dan mas suami kadang sepakat untuk gantian tidur duluan untuk jagain Irham. Irham mulai mengantuk saat jarum jam menunjukkan pukul 10 malam. Dia akan tidur malam dan bangun pada pukul 8 pagi.

Nah, kalau dia tidur siang maka jam tidur malamnya akan sangat larut, bisa sampai jam 12 malam baru tidur dan bangun tetap sekitar jam 8 pagi. Sebenarnya total jumlah tidurnya sudah cukup yaitu sekitar 9-10 jam tetapi yang masih kacau adalah pola tidurnya. 

Begadang di masa anak-anak masih bayi berbeda dengan begadang ketika mereka berada di usia balita (preschool). Ketika bayi, kemampuan fisik mereka belum terlalu banyak sehingga pilihan yang bisa kita lakukan adalah menemani mereka bermain sambil tiduran di kasur, digendong atau disusui supaya mereka bisa tertidur kembali. Nah, saat anak memasuki usia balita dengan kemampuan fisik yang sudah berkembang ketika mereka terbangun dari tidurnya di malam hari mau tidak mau memaksa orang tua untuk ikut terbangun untuk menemani bermain. Kalau sudah begini, orang tua kurang tidur dan anak pun kemungkinan akan kurang tidur. Padahal tidur memegang peranan penting dalam proses tumbuh kembang anak. Ketika terjaga, anak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan mengalami kejadian positif maupun negatif. Tidur berperan mengendapkan berbagai pengalaman tersebut dan membuang pengalaman yang tidak diinginkan. Dalam tidur terjadi banyak aktivasi sel otak yang berperan besar dalam perkembangan kematangan otak pada tahun-tahun pertama kehidupan. Tidur juga memiliki sifat restoratif yang terkait dengan pemeliharaan daya tahan tubuh dan pertumbuhan fisik, menghilangkan kelelahan, serta memperbaiki fokus dan konsentrasi.

Sebenarnya berapa sih kisaran total jumlah tidur bagi anak-anak? Terkadang sebagai orang tua kita menganggap jumlah tidur anak kurang dan memaksa untuk tidur siang padahal mereka tidak mengantuk.

Ternyata jumlah total jam tidur anak tergantung usia mereka.

·      Usia bayi 0 – 1 bulan butuh tidur selama 16 – 20 jam

·      Usia 1 bulan – 1 tahun butuh tidur 14 – 15 jam

·      Usia 2 – 3 tahun butuh 11 – 12 jam

·      Usia 5 tahun butuh 11 jam

Bagian terbesar waktu tidur berlangsung di malam hari dengan jumlah 10-12 jam. Beberapa anak di usia batita menolak untuk tidur siang karena asyik bermain. Sebenarnya kita tidak perlu memaksa asal kebutuhan tidur anak tercukupi. Jadi tidak bisa dipukul rata bahwa anak batita “wajib” tidur siang.

Perubahan pola tidur pada anak wajar terjadi. Siklus tidur-bangun dan jumlah tidur yang diperlukan anak ditentukan secara fisiologis oleh usia dan tingkat perkembangan serta dipengaruhi jadwal kegiatan keluarga sehari-hari. Ternyata kebutuhan tidur anak perlahan-lahan berkurang. Bisa kita lihat saat bayi baru lahir hampir sebagian besar waktunya dihabiskan untuk tidur, saat anak mulai masuk usia batita dia hanya butuh waktu tidur 10-13 jam saja per hari.

Irham terkadang tidak tidur siang karena asyik bermain dengan teman-temannya, kalau saya memaksa yang terjadi dia malah tantrum. Akhirnya saya putuskan membiarkan dia bermain dulu dan memastikan jumlah tidurnya cukup di malam hari. Dalam keadaan normal jika Irham tidak tidur siang maka jam 20.00 dia sudah mengantuk dan mulai tidur malam jam 21.00 dan bangun pukul 5 pagi.

Yang harus saya lakukan secara konsisten adalah mengatur pola tidurnya. Perlu membiasakan kegiatan pengantar tidur yang bisa dilakukan untuk membentuk pola tidur yang baik. Idealnya sih, anak batita seusia irham tidur di bawah jam 9 malam.

Beberapa aktivitas yang sering saya lakukan ketika melihat tanda-tanda irham mulai mengantuk adalah mengajaknya gelegoran di kasur. Sambil saya peluk-peluk, dia mulai cerita-cerita sampai akhirnya tak terdengar suaranya. Ternyata matanya sudah merem dan terlelap.

Terkadang pola tidur irham kacau kalau saya ada tugas kantor yang memaksa saya pulang larut malam. Rutinitas gelegoran di kasur sambil pelukan pada pukul 9 malam tidak bisa saya lakukan sehingga Irham kesulitan untuk memulai tidurnya. Akibatnya dia begadang karena kehilangan rutinitas pengantar tidur. Sama persis dengan kejadian setelah disapih. Irham tetap menunggu saya pulang untuk memulai tidur malamnya. Tapi kalau rutinitas pekerjaan kantor kembali normal, maka pola tidur irham pun kembali normal kembali.

Aktivitas pengantar tidur setiap anak memang berbeda-beda. Hal ini tergantung pada kebiasaan anak dan keluarga. Aktivitas ini sangat membantu anak untuk cepat tidur, dan bisa menambah bonding dengan anak. Saya sendiri sangat menikmati saat melakukan aktivitas menjelang tidur dengan irham. Kami saling berpelukan dan bersentuhan, sama seperti saat menyusui. Rasanya sungguh membahagiakan.

Kamis, 30 Desember 2021

Mensiasati Guilty Feeling bagi Ibu Bekerja

 Yang berstatus ibu bekerja coba tunjuk tangan.

Toss ..statusnya sama kayak saya. Pernahkah teman-teman mengalami perasaan bersalah (guilty feeling) saat meninggalkan anak yang masih kecil untuk berangkat kerja? Saya yakin semua ibu bekerja sempat merasakan perasaan ini, walau kadarnya akan berbeda-beda. Secara naluri seorang Ibu selalu ingin berada di dekat anaknya namun ada beberapa kondisi yang membuat ibu harus meninggalkan anaknya untuk bekerja. Pengasuhan anak didelegasikan kepada orang lain. Guilty feeling ini lumrah dialami oleh para ibu yang bekerja di luar rumah.

Saya juga mengalaminya. Selama rentang waktu bekerja kurang lebih 15 tahun dengan 3 orang anak, saya berkali-kali mengalami perasaan bersalah itu. Guilty feeling sangat terasa saat masa cuti melahirkan habis dan harus segera masuk kantor. Walau ada pengasuh yang menginap di rumah, tetap saja rasanya gimana gitu meninggalkan mereka seharian. Di kantor bawaannya kangen mencium bau wangi bayi dan pengen menggendong.

Perasaan bahwa sebagai ibu tidak bisa maksimal dalam hal mengurus dan mengasuh bayi sering bermunculan di benak saya. pokoknya nano-nano deh rasanya.Tapi life must go on . Sebagai ibu harus bisa menjalani kenyataan hidup bahwa menjadi pekerja kantoran harus bersikap profesional dan juga mampu mengayomi anak-anak di rumah. Ini adalah konsekuensi yang harus diterima oleh ibu yang memilih untuk bekerja kantoran. Setiap Ibu bekerja pasti akan mempunyai cerita dan permasalahan yang berbeda-beda dalam menjalani peran gandanya.

Jumat, 20 Agustus 2021

Review Buku : Antologi Ibu Rumah Tangga Bisa Apa?


Judul : Ibu Rumah Tangga Bisa Apa

Penulis : Malica Ahmad dkk. 

Penerbit : Dandelion Publisher, cetakan pertama Maret 2021

Menjadi salah satu kontributor tulisan di buku antologi ini sangat membahagiakan karena ini adalah buku antologi pertama saya. Sebenarnya sudah lama saya ingin menerbitkan buku tapi selalu saja maju mundur dan rasanya belum nemu waktu yang pas. Saat ditawari untuk ikut gabung menulis di antologi ini, saya langsung tertarik karena tema yang diangkat adalah tentang perempuan dan ibu rumah tangga.

Tidak sedikit perempuan yang menyandang status ibu rumah tangga mendapat pertanyaan-pertanyaan yang kurang mengenakkan seperti:

“Sudah sekolah tinggi-tinggi sampai jadi sarjana, masak cuma jadi ibu rumah tangga dan tidak kerja. Duh rugi banget..”

Atau pertanyaan lain :

“Sekarang kerja dimana? Hah? Ga kerja? Cuma jadi ibu rumah tangga aja di rumah?”

antologi IRT Bisa Apa?

Rabu, 23 Juni 2021

Get Big Dream with ASUS

Masa pandemi yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun ini “memaksa” banyak orang untuk bekerja secara on-line dari rumah. Saya termasuk pekerja kantoran yang harus terbagi shift untuk bekerja dari rumah. Namun sebagai Ibu bekerja yang biasa bekerja di kantor, ternyata bekerja dari rumah menambah masalah baru bagi saya. Membagi waktu 24 jam di rumah untuk bekerja, mengurus rumah dan mendampingi 3 anak sekolah secara on-line sungguh tidak mudah. Masih ditambah kesibukan saya menulis.

Sebelum pandemi, sepulang kantor saya full mengurusi anak-anak dan rumah. Anak-anak sekolah fullday sampai sore jadi saat di rumah adalah saat mereka beristirahat. Urusan pekerjaan dan menulis saya lakukan pada jam kerja di kantor. Sekarang semuanya berubah drastis. Hampir semua kegiatan harus dilakukan di rumah. sebenarnya ada sisi positif dan negatifnya. Bekerja dari rumah memberi fleksibilitas waktu untuk bekerja, mengurus rumah dan melakukan hal lain termasuk hobi. Banyak juga yang menekuni hobi baru seperti bertanam, memasak atau bersepeda. Sekarang sepanjang jalan rombongan pesepeda semakin marak saja. Apalagi kalau menilik lini masa media sosial, bertebaran foto-foto tanaman, masakan atau pose bersepeda.

Selasa, 11 Mei 2021

Mengurangi Sampah Makanan Keluarga

“Bu.., tukang sampahnya sudah 3 hari ini tidak datang,” asisten rumah tangga saya melaporkan.

Duh, rasanya sebal sekali melihat tumpukan sampah di depan rumah. Tumpukan sampah itu jadi mengurangi estetika pandangan, apalagi kalau ada sampah basahnya jelas akan menimbulkan aroma yang tidak sedap. Urusan sampah yang telat diambil sekarang jadi masalah baru bagi orang-orang yang tinggal di perumahan dengan lahan terbatas seperti saya. Saya sendiri jadi sangat tergantung dengan keberadaan tukang sampah yang mengambil sampah rutin setiap dua hari sekali. Cilakanya kalau dia tidak datang dan tidak berkabar, hasilnya sampah akan menumpuk di depan rumah.

Kata sampah sebenarnya sangat familiar di telinga kita. Keluarga bahkan individu setiap hari pasti menghasilkan sampah baik sampah organik maupun non organik. Rumah tangga tanpa disadari menyumbang produksi sampah organik atau sampah sisa makanan yang cukup besar. Saya cukup kaget ketika membaca sebuah hasil penelitian bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Arab Saudi dalam hal membuang sampah makanan.

Rabu, 06 Januari 2021

Tips Menyapih dengan Cinta

Perjalanan menjadi Ibu diawali saat melahirkan dan belajar menyusui bayi. Setiap Ibu pasti mempunyai pengalaman yang berbeda setiap melahirkan. Setiap anak membawa ceritanya sendiri. Saya merasakan pengalaman tiga kali melahirkan dan itu membuat saya merasakan menjadi Ibu baru sebanyak 3 kali juga.

Saat melahirkan Irham, rasanya berbeda dengan pengalaman melahirkan 2 kakaknya. Tiga kali merasakan sesar, tiga kali pula merasakan pengalaman recovery yang berbeda. Hari pertama pasca sesar ASI saya belum keluar dan Irham sudah dibawa perawat untuk room in dengan saya. Perjuangan untuk menyusui Irham di hari-hari pertaman lumayan berat karena saya harus menyusui dengan posisi tidur telentang. Maklum saya belum mampu untuk duduk dan berdiri. Luka pasca sesar masih sakit sekali.

Jumat, 16 Oktober 2020

Antara Perempuan dan Memasak

 MEMASAK. Ketika mendengar kata itu, yang terlintas dalam pikiran adalah urusan domestik rumah yang “biasanya” dipegang oleh perempuan. Bener ga sih penguasa dapur dan urusan memasak ada di tangan seorang perempuan atau istri? Trus apakah sebagai perempuan kudu pinter masak?

Memasak sebenarnya adalah pemenuhan kebutuhan dasar hidup yaitu makan. Hal itu bisa dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Saat ini tidak sedikit nama-nama chef laki-laki yang mahir membuat masakan susyah. Sebut saja Chef Juna atau chef Arnold. Dengan penampilan gagah mereka bisa begitu luwes memainkan alat dapur, meracik bahan dan bumbu, memasak sampai menyajikannya menjadi masakan yang menggugah selera.

Kompetisi bakat memasak pun tidak melulu diikuti oleh perempuan. Banyak laki-laki yang tertarik untuk ikut dan membuktikan kepiawaian mereka dalam memasak. Kemampuan memasak tidak terbatas pada perempuan karena memasak sekarang adalah ilmu yang bisa dipelajari. Siapa saja yang mempunyai passion memasak dapat belajar. Laki-laki yang jago masak tetap maskulin dan keren. Sedangkan perempuan yang pinter masak akan menambah kesan lebih feminin dan romantis.

Kamis, 03 September 2020

Mengendalikan Emosi Negatif

Pernahkah teman-teman berada pada puncak emosi marah? Badan terasa bergetar, detak jantung meningkat, nafas tidak teratur tubuh terasa panas dan kepala terasa pusing. Bahkan terkadang ada keinginan untuk berteriak dan memukul untuk melampiaskannya. Saya pernah mengalaminya. Rasa marah terkadang tidak langsung hilang walau sudah dilampiaskan dengan marah-marah dengan intonasi tinggi. Orang yang menjadi pelampiasan amarah saya terkadang juga ikut tersulut marahnya. Amarah saya pun tidak langsung hilang. Ditambah permasalahan yang menyebabkan saya marah tidak terselesaikan. Hal ini membuat ketidaknyamanan bagi saya.

Nah, pada postingan kali ini saya ingin share tentang mengelola emosi negatif seperti marah tadi.

Selasa, 26 Mei 2020

Idul Fitri 1441 H

Selamat Idul Fitri 1441 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Idul Fitri di tahun 2020 ini terasa sangat berbeda. Kita merayakan Idul Fitri di tengah pandemi corona sejak Presiden mengumumkan kasus positif pertama di Indonesia bulan Maret 2020. Anjuran untuk memutuskan rantai penyebaran covid-19 dengan tinggal di rumah, memakai masker, sering mencuci tangan dan menjaga jarak dengan orang lain telah merubah semua aktivitas harian semua orang, tak terkecuali saya dan keluarga.

Sejak kantor memberikan kebijakan Bekerja Dari Rumah tanggal 18 Maret 2020, saya, mas suami dan anak-anak berkativitas dari rumah. Di masa-masa awal, rasanya bosan dan susah mengatur ritme aktivitas. Menemani anak-anak belajar, memasak dan mengerjakan pekerjaan kantor menjadi hal yang susah-susah gampang dilakukan di rumah. Setiap kali buka laptop, ada aja yang ngerecoki hehe...
Tapi tetap jadi hal yang seru karena 24 jam kumpul sama anak-anak. Waktu kerja juga jadi lebih fleksibel.

Ramadhan dan Idul Fitri

Memasuki bulan Ramadhan, anak-anak mulai saya kondisikan dengan ritme aktivitas baru yaitu sahur dan sholat tarawih. Sholat tarawih kami lakukan di rumah secara berjamaah. Kadang-kadang jam 8 malam baru mulai tarawih karena nunggu si adik irham bobok. Malah sempat kami tarawih jam 10 malem, untungnya si kakak ikhsan dan ikhfan belum ngantuk.
Ramadhan tahun ini juga bisa berhemat karena anak-anak "nerimo" dengan makanan yang saya sajikan di rumah. Ga minta jajan atau makan di luar. Saya jadi lebih sering masak sendiri. Jarang banget beli makanan matang. Belanja stok makanan seminggu 2 kali  dan pilih-pilih warung yang ga ramai untuk menghindari kerumunan.
Di lebaran ini kami tidak pakai baju baru. Anak-anak juga tidak merengek-rengek minta baju baru. Alhamdulillah...
Masih bisa pakai baju lebaran tahun kemarin. 

Semoga kita semua bisa menjalani kehidupan dengan ikhlas di masa pandemi ini. Jangan lupa tetap bahagia walau harus banyak menghabiskan waktu di rumah. Banyak hikmah yang bisa kita ambil, seperti kebersamaan dengan keluarga adalah sesuatu yang berharga.

Mohon Maaf Lahir Batin dari Jogja


with 3 boys

Kamis, 27 Februari 2020

Tips mengatasi sibling rivalry pada Si Anak Tengah (2- habis)

Sibling rivalry adalah bahan perbincangan yang tiada habis bagi emak-emak. Keluarga yang mempunyai anak lebih dari satu pasti pernah mengalami sibling rivalry. Persaingan antar saudara untuk memperebutkan perhatian dan kasih sayang orang tua memang biasa terjadi di antara anak-anak. Ada kalanya persaingan terjadi setelah kehadiran adik baru. Persaingan tersebuat adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih dan perhatian dari satu atau kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih.

Nah, di postingan kali ini, saya akan menuliskan progress saya mengatasi sibling rivalry pada Ikhfan ( 6,5 th). Di postingan sebelumnya, (baca : mengatasi sibling rivalry pada anak tengah) saya sudah menceritakan betapa Ikhfan mudah sekali tersulut tantrumnya yang terkadang membuat emosi saya bagai rollercoaster. Periode puncak tantrum ikhfan terjadi pada saat kelahiran Irham di tahun 2018.

Secara teori, sibling rivalry bisa dikendalikan dan diselesaikan. Namun secara praktek tidak mudah karena butuh “perjuangan dan pengorbangan” seluruh anggota keluarga terutama Ibu. Selama hampir satu tahun ini saya berjuang untuk mengelola emosi saya dan menyelamatkan ikhfan dari tantrum dan sibling rivalry.

Jumat, 21 Februari 2020

Mengatasi Serangan Asma pada Anak

Asma merupakan penyakit gangguan pernapasan yang dapat menyerang anak-anak hingga orang dewasa, tetapi penyakit ini lebih banyak terjadi pada anak-anak.  Secara medis, asma didefinisikan sebagai suatu kondisi ketika terjadi gangguan pada sistem pernapasan yang menyebabkan penderita mengalami mengi (wheezing), sesak napas, batuk, dan sesak di dada terutama ketika malam hari atau dini hari. 

Asma dapat muncul karena reaksi terhadap faktor pencetus yang mengakibatkan penyempitan dan penyebab yang mengakibatkan inflamasi saluran pernafasan atau reaksi hipersensitivitas. Kedua faktor tersebut akan menyebabkan kambuhnya asma dan akibatnya penderita akan kekurangan udara hingga kesulitan bernapas.

Serangan asma pada anak-anak perlu lebih diwaspadai karena mereka belum bisa mengatakan atau mendeskripsikan rasa sakitnya. Saya sendiri sekarang lebih aware dengan serangan asma  pada anak-anak, sebab 3 anak laki-laki saya semua menderita asma.

Senin, 04 November 2019

Cara Mengelola Emosi pada Ibu

“Kakak,..Ibu sudah bilang jangan rebut mainan adikmu. Tuh Adikmu nangis. Ayolah, jangan bikin Ibu marah. Ibu capek...”

Si kakak bukannya nurut, tapi malah semakin bikin ulah. Hadew... ini emosi Ibu jadi seperti roler coaster rasanya. Mencoba menahan untuk tidak marah, tapi rasanya beraa..aat sekali.

Pernah dengar kalimat seperti itu keluar dari mulut seorang Ibu? Atau mungkin teman-teman pernah mengalaminya sendiri?

Saya yakin kejadian semacam itu pernah dialami seorang Ibu, apalagi jika kondisi fisik Ibu dalam keadaan lelah. Saya sendiri juga tidak memungkiri pernah mengalaminya.

Merawat dan mendidik anak-anak bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Namun terkadang sebagian Ibu seringkali merasa marah terhadap suami dan anak-anak padahal mungkin mereka tidak punya kesalahan pada Ibu. Setelah marah pada anak, kemudian ada rasa penyesalan di hati. Duh, rasanya emosi seperti roller coaster saja.

Jumat, 30 Agustus 2019

Tips mengatasi sibling rivalry pada Si Anak Tengah


“Ibu ga sayang aku...,” Ikhfan menangis sambil teriak.

Saya terhenyak. Kaget campur bingung. Ikhfan si anak tengah ini sekarang lebih sering tantrum sejak kelahiran irham. Mulai sering tidak akur dengan kakak sulung. Tidak jarang masalah sepele dijadikan alasan untuk marah dengan kakak. 
Sampai pernah suatu saat kakak menangis di pojokan karena ikhfan terus saja membentaknya tanpa sebab. Selain dengan si kakak, saya adalah “sasaran empuk” tantrum-nya. Tempat yang paling enak untuk melampiaskan tantrumnya adalah IBU. Telat menyiapkan jus jambu kesukaannya bisa jadi alasan untuk marah sama saya.

Hadew... sekarang saya mulai posing dengan keadaan ini dan mulai menerka, apakah ini yang dinamakan sibling rivalry?

Rabu, 07 Agustus 2019

Membuat Anggaran Keuangan Keluarga (part 3)

Setelah melakukan evaluasi isi dompet, selanjutnya kita bisa membuat anggaran keuangan keluarga. Sebelumnya mari kita pahami apa itu anggaran? 


Anggaran merupakan suatu rencana yang disusun untuk seluruh kebutuhan pembayaran keluarga dan juga memenuhi rencana di masa depan. Contoh sederhana adalah membuat rencana pengeluaran dalam bentuk membagi penghasilan kita kedalam berbagai pos-pos pengeluaran/kebutuhan rumah tangga.

Kenapa sih kita butuh membuat anggaran? Ribet amat..

Selasa, 25 Juni 2019

Cara Merencanakan Keuangan (part 2)

Melanjutkan postingan saya sebelumnya tentang pentingnya perencanaan keuangan keluarga, sekarang saya mau nulis tentang cara merencanakan keuangan keluarga.

Baca : Perencanaan Keuangan (part 1)

Setelah kita mempunyai daftar tujuan (kebutuhan) keuangan, langkah selanjutnya adalah membuat tahapan supaya tujuan tersebut bisa tercapai. Setiap orang akan mempunyai daftar tujuan keuangan yang berbeda-beda tapi secara umum tujuannya adalah terpenuhinya kebutuhan saat ini dan kebutuhan di masa datang.
Contoh kebutuhan saat ini adalah pengeluaran rutin rumah tangga dan uang sekolah bulanan anak sedangkan kebutuhan yang akan datang seperti kebutuhan dana pendidikan anak, naik haji dan dana pensiun.

Untuk membuat perencanaan keuangan langkah apa saja yang harus kita lakukan terlebih dahulu? 

Jumat, 26 April 2019

perencanaan keuangan keluarga (part 1)


Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.

Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak banyak saldo di tabungan saya hihi... siapa yang pernah ngalami masa-masa seperti saya dulu? Toss ah..

Kamis, 14 Maret 2019

Seputar Menggendong Bayi

Tiga kali melahirkan dan punya bayi, rasanya saya selalu ingin memperpanjang masa saat anak-anak menjadi bayi. Menggendong bayi itu rasanya menyenangkan. Setelah melahirkan anak ketiga, saya baru “ngeh” kalau ternyata menggendong  bayi ada ilmunya. Enggak cuma sekedar menggendong saja. Ilmu menggendong bayi yang saya peroleh dari ibu mertua atau orang-orang di sekitar saya,  yaitu kalau menggendong bayi paling nyaman ya pakai kain jarik. Bayi sebelum usia 6 bulan harus digendong dengan posisi kaki bayi lurus. Alasannya kaki bayi belum kuat kalau digendong dengan posisi kaki mengangkang dan nanti pertumbuhan kaki bayi akan terganggu.

Terus ada juga yang memberi nasehat kalau anak bayi jangan sering-sering digendong nanti takutnya bayi bakal “bau tangan” atau lebih senang digendong, manja dan tidak mandiri.
Temen-temen ada ga yang dapet wejangan kayak saya pas sehabis melahirkan?? Cung tangan dan toss...

Kamis, 20 Desember 2018

Menjadi Ibu itu "Tidak Boleh Sakit"

Ibu adalah "center of power" di rumah. 

Saat mendapat status menjadi Ibu, maka bersiaplah untuk kuat dan sehat mengurus keluarga. Entah itu Ibu yang full di rumah atau Ibu bekerja karena seorang Ibu adalah manajer rumah tangga tempat kontrol semua kegiatan di rumah. Kita tahu, seorang manajer mempunyai tanggungjawab yang besar, nah kalau manajer rumah tangga  apa yang jadi tanggungjawabnya?

Seorang Ibu mempunyai tanggungjawab untuk mengurus dan melayani suami, anak-anak, anggota keluarga lain dan juga dirinya sendiri. Selain itu Ibu harus bisa memastikan kelancaran operasional di rumah mulai dari mengurus kebersihan rumah, penyediaan kebutuhan logistik rumah, merawat dan memastikan semua anggota keluarga terlayani dengan baik.

Wuih.. tanggungjawab yang tidak ringan bukan? secara fisik butuh stamina yang kuat untuk menjalaninya.

Baca :Menjadi Manajer Rumah Tangga

Pekerjaan di rumah adalah pekerjaan yang tidak pernah berakhir. Contoh kecilnya adalah saat piring dan gelas yang sudah dicuci semua hanya akan bertahan sebentar karena dalam beberapa menit akan ada yang mulai mengambil gelas bersih dan menjadi kotor lagi. Pun urusan baju kotor, akan senasib seperti urusan piring kotor.

Lingkaran pekerjaan yang tak pernah usai dan membutuhkan tenaga untuk mengeksekusinya. Apalagi kalau tidak punya ART, sang Ibu akan menjadi orang pertama yang bangun dan orang yang terakhir tidur di rumah. Betul ga? siapa yang sudah mengalaminya? tunjuk tangan…. Toss sama saya kalau sama hehe...

Lalu apa jadinya kalau si ibu sang manajer rumah tangga jatuh sakit??