Jumat, 30 Agustus 2019

Tips mengatasi sibling rivalry pada Si Anak Tengah


“Ibu ga sayang aku...,” Ikhfan menangis sambil teriak.

Saya terhenyak. Kaget campur bingung. Ikhfan si anak tengah ini sekarang lebih sering tantrum sejak kelahiran irham. Mulai sering tidak akur dengan kakak sulung. Tidak jarang masalah sepele dijadikan alasan untuk marah dengan kakak. 
Sampai pernah suatu saat kakak menangis di pojokan karena ikhfan terus saja membentaknya tanpa sebab. Selain dengan si kakak, saya adalah “sasaran empuk” tantrum-nya. Tempat yang paling enak untuk melampiaskan tantrumnya adalah IBU. Telat menyiapkan jus jambu kesukaannya bisa jadi alasan untuk marah sama saya.

Hadew... sekarang saya mulai posing dengan keadaan ini dan mulai menerka, apakah ini yang dinamakan sibling rivalry?

Rabu, 07 Agustus 2019

Membuat Anggaran Keuangan Keluarga (part 3)

Setelah melakukan evaluasi isi dompet, selanjutnya kita bisa membuat anggaran keuangan keluarga. Sebelumnya mari kita pahami apa itu anggaran? 


Anggaran merupakan suatu rencana yang disusun untuk seluruh kebutuhan pembayaran keluarga dan juga memenuhi rencana di masa depan. Contoh sederhana adalah membuat rencana pengeluaran dalam bentuk membagi penghasilan kita kedalam berbagai pos-pos pengeluaran/kebutuhan rumah tangga.

Kenapa sih kita butuh membuat anggaran? Ribet amat..

Selasa, 25 Juni 2019

Cara Merencanakan Keuangan (part 2)

Melanjutkan postingan saya sebelumnya tentang pentingnya perencanaan keuangan keluarga, sekarang saya mau nulis tentang cara merencanakan keuangan keluarga.

Baca : Perencanaan Keuangan (part 1)

Setelah kita mempunyai daftar tujuan (kebutuhan) keuangan, langkah selanjutnya adalah membuat tahapan supaya tujuan tersebut bisa tercapai. Setiap orang akan mempunyai daftar tujuan keuangan yang berbeda-beda tapi secara umum tujuannya adalah terpenuhinya kebutuhan saat ini dan kebutuhan di masa datang.
Contoh kebutuhan saat ini adalah pengeluaran rutin rumah tangga dan uang sekolah bulanan anak sedangkan kebutuhan yang akan datang seperti kebutuhan dana pendidikan anak, naik haji dan dana pensiun.

Untuk membuat perencanaan keuangan langkah apa saja yang harus kita lakukan terlebih dahulu? 

Jumat, 26 April 2019

perencanaan keuangan keluarga (part 1)


Membicarakan masalah uang akan selalu menjadi topik bahasan yang menarik terutama bagi emak-emak yang notabene adalah “manajer keuangan” keluarga. Menyeimbangkan antara penghasilan dan pengeluaran pada kenyataannya bukanlah semudah membalik telapak tangan. Jumlah penghasilan yang cenderung tetap, terkadang harus berpacu dengan jumlah pengeluaran yang cenderung bertambah. Dan pada akhir cerita, ada yang berakhir dengan berhutang untuk menutup kekurangan tersebut. Padahal kita semua tahu, hutang adalah tambahan beban keuangan bagi kita.

Sekolah khusus untuk mendapatkan ilmu merencanakan dan mengelola keuangan keluarga memang tidak ada, jadi kita musti pandai-pandai mencari informasi seputar itu. Saya sendiri baru akhir-akhir ini saja mulai “ngeh” dengan urusan family finance. Sejak masih single dan mempunyai penghasilan sendiri, saya tidak mempunyai planning keuangan. Kala itu uang gajian sebagaian besar saya gunakan untuk “have fun” saja dan jika ada sisa baru saya tabung. Alhasil tidak banyak saldo di tabungan saya hihi... siapa yang pernah ngalami masa-masa seperti saya dulu? Toss ah..

Kamis, 14 Maret 2019

Seputar Menggendong Bayi

Tiga kali melahirkan dan punya bayi, rasanya saya selalu ingin memperpanjang masa saat anak-anak menjadi bayi. Menggendong bayi itu rasanya menyenangkan. Setelah melahirkan anak ketiga, saya baru “ngeh” kalau ternyata menggendong  bayi ada ilmunya. Enggak cuma sekedar menggendong saja. Ilmu menggendong bayi yang saya peroleh dari ibu mertua atau orang-orang di sekitar saya,  yaitu kalau menggendong bayi paling nyaman ya pakai kain jarik. Bayi sebelum usia 6 bulan harus digendong dengan posisi kaki bayi lurus. Alasannya kaki bayi belum kuat kalau digendong dengan posisi kaki mengangkang dan nanti pertumbuhan kaki bayi akan terganggu.

Terus ada juga yang memberi nasehat kalau anak bayi jangan sering-sering digendong nanti takutnya bayi bakal “bau tangan” atau lebih senang digendong, manja dan tidak mandiri.
Temen-temen ada ga yang dapet wejangan kayak saya pas sehabis melahirkan?? Cung tangan dan toss...

Kamis, 20 Desember 2018

Menjadi Ibu itu "Tidak Boleh Sakit"

Ibu adalah "center of power" di rumah. 

Saat mendapat status menjadi Ibu, maka bersiaplah untuk kuat dan sehat mengurus keluarga. Entah itu Ibu yang full di rumah atau Ibu bekerja karena seorang Ibu adalah manajer rumah tangga tempat kontrol semua kegiatan di rumah. Kita tahu, seorang manajer mempunyai tanggungjawab yang besar, nah kalau manajer rumah tangga  apa yang jadi tanggungjawabnya?

Seorang Ibu mempunyai tanggungjawab untuk mengurus dan melayani suami, anak-anak, anggota keluarga lain dan juga dirinya sendiri. Selain itu Ibu harus bisa memastikan kelancaran operasional di rumah mulai dari mengurus kebersihan rumah, penyediaan kebutuhan logistik rumah, merawat dan memastikan semua anggota keluarga terlayani dengan baik.

Wuih.. tanggungjawab yang tidak ringan bukan? secara fisik butuh stamina yang kuat untuk menjalaninya.

Baca :Menjadi Manajer Rumah Tangga

Pekerjaan di rumah adalah pekerjaan yang tidak pernah berakhir. Contoh kecilnya adalah saat piring dan gelas yang sudah dicuci semua hanya akan bertahan sebentar karena dalam beberapa menit akan ada yang mulai mengambil gelas bersih dan menjadi kotor lagi. Pun urusan baju kotor, akan senasib seperti urusan piring kotor.

Lingkaran pekerjaan yang tak pernah usai dan membutuhkan tenaga untuk mengeksekusinya. Apalagi kalau tidak punya ART, sang Ibu akan menjadi orang pertama yang bangun dan orang yang terakhir tidur di rumah. Betul ga? siapa yang sudah mengalaminya? tunjuk tangan…. Toss sama saya kalau sama hehe...

Lalu apa jadinya kalau si ibu sang manajer rumah tangga jatuh sakit??

Senin, 10 Desember 2018

Pejuang ASI eksklusif untuk irham

Akhir bulan November 2018 ini, Irham genap berusia 6 bulan. Iyes.. akhirnya si anak bayi ini lulus ASI eksklusif. Lega dan puas rasanya bisa memberikan hak bagi Irham untuk mendapatkan ASI. Saya sendiri sebagai ibu juga "bangga" berhasil melewati perjuangan lelahnya menyusui dan memerah ASI. Bukan karena urusan memberikan ASI eksklusif sekarang lagi "trend" dan ramai di media sosal, tapi rasa bahagia dan puas sebagai ibu tidak bias dilukiskan dengan kata-kata.

Saya juga tidak memungkiri bahwa media sosial menjadi salah satu booster untuk bisa memberikan ASI eksklusif. Melihat foto botol-botol ASIP di freezer dan foto wajah bayi yang pipinya menggembul yang wira-wiri di lini masa sekarang jadi sesuatu yang menggelitik hati untuk juga bisa punya stok ASIP yang banyak. Apa saya juga ikutan share foto botol-botol ASIP di medsos? ah, sesekali saya juga share dengan niatan bisa jadi booster ibu-ibu yang menyusui untuk ikut berjuang memberikan ASI bagi bayinya.