Meski tinggal di rumah sendirian, eyang tetap legowo dan nrimo.
Meski kadang terbersit rasa bersalah di hati saya karena tidak bisa setiap saat menjenguk dan menemani eyang di rumah condong. Ah, eyang memang bapak yang baik dan sabar bagi kami, anak-anaknya.
Tidak ada yang spesial di hari ultah eyang. Saya hanya pesan kue tart dan nasi kuning untuk dibagi ke tetangga dekat rumah eyang. Rasanya memang kurang lengkap, karena di hari eyang ultah, mas dapat tugas ke manado. Jadi saya membayangkan, hanya akan ada saya dan ikhsan saja yang bakal meniup lilin ke 70-nya eyang. Ke3 kakak dan adik saya yang di solo dan semarang kayaknya ga bisa datang.


Ah, ga dinyana kakak saya yang di solo (mba ratna) tiba-tiba datang menjelang doa bersama kami untuk eyang. Dia datang sendiri. Anak-anaknya ditinggal di rumah sama suaminya.
Wah, surprise banget tentunya. Dengan kado di tangan mba ratna mencium tangan eyang. Akhirnya perayaan ultah eyang agak ramai karena ada saya, ikhsan dan mba ratna.

selamat ulang tahun eyang...
semoga Allah melimpahi kesehatan, dan kekuatan bagi eyang untuk menjalani hari-hari eyang..
Kami hanya bisa bersujud syukur atas limpahan karunia yang tak terhingga ini...
Maafkan kami jika kami tidak bisa setiap saat menemani eyang...
Maafkan kami, jika kami belum bisa membalas semua jasa dan kebaikan eyang selama ini..
Tapi doa dan perhatian kami selalu tercurah untuk eyang...
selalu dan selamanya, tak kan terputus sepanjang waktu.






